A Spirit of Seattle Sound: Elegi untuk Seorang Abang

 Mirza Kesuma

Event GMA Tribute: A Spirit of Seattle Sound, baru saja berlangsung Sabtu malam  9 February 2013 di Haba Cafe, Lamprit Banda Aceh. Prediksi cuaca dari teman-teman beberapa jam sebelum acara berlangsung ternyata tidak tepat. Hujan hanya turun sebentar sebelum magrib, dan setelah itu terang benderang. Beruntung sekali! Acara, dengan segala kekurangannya, menurutku berlangsung sangat sukses. Sebuah romantisme tercipta dengan lagu-lagu yang kini menjadi nostalgia bagi kami musisi yang besar di era 90-an. Ada beberapa catatan penting di malam itu yang sangat berkesan: spirit musisi Aceh untuk terus berkarya, GMA Records, dan mengenang almarhum Mirza Kesuma.

Acara dimulai pukul 20:20. Bertindak sebagai MC adalah Teuku Muttaqin Luthfan. Penyiar radio Oz ini sekarang menjadi pembawa acara reguler di acara-acara GMA. Sebuah pembukaan yang menarik dari Luthfan mengenai maksud dan tujuan dari acara ini (baca artikel: GMA Tribute: A Spirit of Seattle Sound). Beberapa hari sebelum acara, Luthfan sempat mewawancarai ketua panitia Ziqrul Ichsan alias Abenk, dan Jovi Firustian Nasution dari GMA, di dalam acara semi talkshow yang dibawakannya selama ini bertajuk #IndieMovement #LocalMovement. Cocok sekali dengan konsep indie yang mencuat di era Seattle Sound. Dan spirit indie (baca: independent) ini mengangkat atau memberi peluang musisi lokal untuk berkembang.

Krantz Aer

Ada lima band yang bermain. Secara berurutan dimulai dengan Krantz Aer. Trio  yang digawangi oleh Ismet (bass), Ayip (gitar/vokal) dan John (drum) ini memanaskan suasana  dengan membawakan tiga tembang milik Nirvana: Territorial Pissing, About Girl dan Breed. Serasa melihat jelmaan Nirvana beraksi ketika ketiga musisi ini bermain.  Dilanjutkan oleh Bloody Ground yang membawakan tembang-tembang milik Stone Temple Pilots. Secara berturut-turut: Vasoline, Interstate Love Song dan Plush. Band yang ngetop di akhir era 90-an di Banda Aceh ini, sebelum bertransformasi menjadi Cape Town, menghadirkan Qemal Taqwa Kesuma (vokal), Ricky Qinoy (gitar), Ricky Shusu (bass) dan Gusty Portnoy (drum). Penampilan yang sangat apik dan keren. Penonton pun ikut bernyanyi mengikuti lirik lagu yang terpampang di screen poyektor yang disediakan panitia.

Bloody Ground

Band berikutnya adalah Mookie Blaylock. Band proyekan yang semua personilnya merupakan panitia acara ini tampil dengan membawakan lagu-lagu No Execuses (Alice in Chains), Rats (Pearl Jam) dan Blackhole Sun (Soudgarden). Bertindak sebagai vokalis adalah ketua panitia acara Abenk Ziqrul Ichsan, Delly Gober (bass), Jovi Firustian Nasution (gitar), Ibal Apex (gitar) dan saya sendiri T. Mahfud di drum. Abenk yang sore hari itu sempat pingsan karena kelelahan,  mengingatkan teman-teman musisi yang hadir untuk memanfaatkan moment acara A Spirit of Seattle Sound ini sebagai inspirasi untuk tetap semangat bermusik dan terus berkarya. “Pure Grunge! Pure Noise ! Pure Sh*t” teriaknya mengutip quote yang sangat terkenal dari Mark Arm, vokalis Green River/Mudhoney, yang merupakan awal mula digunakannya istilah Grunge untuk menamakan jenis musik rock alternatif yang berkembang dari Seattle. Abenk menutup dengan mengucapkan terima kasih kepada seluruh panitia, penonton, dan semua band yang telah berpartisipasi dalam acara ini, serta para sponsor yang  membantu sehingga acara bisa berlangsung: GMA, Komgit, ID-Atjeh, B-Bass Aceh, All Access – Tim Media GMA, Aceh Grunge Militant Community (AGMC), PT Bima Golden Powerindo, Radio Oz 102.8, Radio Flamboyant 105.2, Haba Cafe, Rumah Musik Cibloe, Aprima Vista Studio, Aceh Media Kreasindo, ATJEHPOSTcom, Atjeh Times dan Aceh.Us Community.

Mookie Blaylock
Wawancara MC Luthfan dengan AGMC (Febri & Helmy)

MC Luthfan mengulang pernyataan Abenk dan menegaskan bahwa bukan masalah bagi musisi Aceh untuk tinggal di ujung Indonesia dan tidak dikenal secara nasional. Yang penting sebagai musisi jangan pernah berhenti menggali dan berkarya. Dia juga mengungkapkan bahwa malam itu adalah launching GMA Records, sebuah unit recording milik GMA yang terinspirasi oleh Sub Pop Records yang menjadi pelopor berkembangnya Seattle Sound. Dia mengajak semua musisi Aceh untuk berkarya dan mempublikasikannya bersama label indie anyar ini.

Selanjutnya naik ke pentas Deep Tan Oil. Salah satu band yang terkenal di era 90-an akhir dan awal 2000-an. Ada dua personil aslinya yang bermain yaitu Zofnath Amfar Lubis di vokal dan Teuku Syahputra “Petrozzo” di gitar.  Deep Tan Oil dibantu oleh Edho Rocha (gitar), Taufik (bass) dan Emrin Stein (drum). Tiga lagu dari Pearl Jam dan Collective Soul dimainkan: Even Flow, Shine dan Alive. Sebentar-sebentar penonton bertepuk tangan dan bernyanyi ketika band ini bermain. Terutama di saat Petrozzo memainkan melodi gitar dari lagu-lagu tersebut. Salah seorang teman (sebut saja namanya Wan Kadal, 36 tahun) memuji aksinya dan mengatakan “Udah lama gak liat Petrozzo bermain gitar, dan malam ini dia keren banget!”.

Deep Tan Oil

 105 Jam hadir kemudian sebagai headliner acara ini. Kelompok yang merupakan home band dari radio Flamboyant FM di era 90-an memang dikenal konsisten membawakan lagu-lagu Pearl Jam. Qifty Kesuma (vokal), Romi Zuliansyah (gitar), Denny Afrizal Syukur (gitar) dan Deddy Mulia (drum) bermain  membawakan  Jeremy, Black, Daughter dan Rearview Mirror. Posisi bass yang biasanya dirangkap Qifty diserahkan ke guest player Tebonk Muntazier dari Inverno. Qifty yang dikenal sebagai “setan panggung” malam itu benar-benar kesetanan. Setiap inchi dari panggung dijelajahinya. Semua speaker dinaikinya. Penonton terus bertepuk tangan dan bernyanyi bersama mereka.  Hadir sebagai guest vocalist Teddy Inverno yang menyanyikan lagu Outshined milik Soundgarden.

105 Jam

Acara ditutup dengan jam session dari semua musisi yang terlibat dan membawakan lagu Smells Like Teen Spirit dan Better Man. 

Jam Session

Mirza Kesuma

Banyak teman-teman musisi muda yang mungkin tidak kenal dengan Mirza Kesuma (11 Oktober 1973 – 3 Desember 2010). Mirza adalah salah seorang pemain keyboard, gitaris dan vokalis terkenal Aceh di era 90-an. Bagiku, dia adalah seorang sahabat, abang dan teman nge-band yang baik. Kami pernah bersama-sama bergabung di band Keumala Dua dan manggung di beberapa kesempatan lainnya. Kebetulan malam konser itu, ada dua adik kandungnya yang bermain di dua band yang berbeda: Qemal (Bloody Ground) dan Qifty Kesuma (105 Jam). Dan, kami para sahabat, malam itu mafhum, semua lagu yang tercantum di dalam playlist acara itu adalah favorit Mirza selama hidupnya. Revolusi grunge di kancah musik dunia memang berdampak dimana-mana, termasuk di dunia musik Aceh era 90-an. Dan kami tumbuh dengan mendengarkan Nirvana, Pearl Jam, Soundgarden dan grup-grup band rock alternatif lain yang muncul di saat itu.

Yang pertama menyebut nama Mirza adalah Qemal. Bersama Bloody Ground, Qemal malam itu membawakan lagu-lagu milik Stone Temple Pilot. Dia dengan terharu mengatakan bahwa baru saja menyanyikan lagu Plush yang merupakan  favorit almarhum abangnya. Dia mendoakan kedamaian bagi Mirza. Kami tercekat dan terenyuh.

Qifty Kesuma ketika tampil bersama 105 Jam, menunjuk ke baju berwarna merah yang dipakainya. Dia mengatakan baju itu adalah  peninggalan mendiang abang yang sangat dia sayangi. Semua lagu yang dimainkan malam itu adalah lagu-lagu kesenangan Mirza.  Andai saja malam itu Mirza ada, pasti dia akan hadir dan bermain juga. Qifty mendedikasikan konser tersebut untuk Mirza Kesuma, seorang abang, sahabat dan musisi yang sangat dicintai. Banyak sahabat yang hadir berkaca-kaca matanya. Sebuah kerinduan terhadap Mirza memang hadir malam itu. We miss you so much, bro!

(TM)

Related

Facebook Comments

9 thoughts on “A Spirit of Seattle Sound: Elegi untuk Seorang Abang

Leave a Reply

%d bloggers like this: