Angin akustik Saguaro

Saguaro003

By Reza Mustafa | Senin, 08 April 2013 07:30:00 WIB | Source: ATJEHPOSTcom

MALAM masih sangat muda. Di halaman belakang café Black & White Coffe sudah berkumpul ratusan orang. Tampak panggung sederhana yang lantainya penuh serakan daun kering. Di panggung hanya ada dua kursi dan sebuah meja kayu. Panggung temaram dengan cahaya panyot dicantolkan di tiang.

Dilatari sketsa abstrak, Duo Akustik Saguaro tampil di café kawasan Seutui, Banda Aceh, Minggu malam pekan lalu. Aroma akustik langsung terasa. Dua personil Saguaro, Cahyo Harimurti dan Maryam Supraba mengisi panggung dengan lagu pertama Nanyi Pagi. Maryam menyanyi diringi petikan gitar kopong Cahyo.

Malam itu kali kedua Saguaro tampil di Aceh. Sebelumnya, mereka manggung di Sabang. Setelah di Banda Aceh, Saguaro tampil di Takengon dalam hajatan tur bertajuk Balada Angin.

Penonton tidak terlalu ramai. Hanya sekitar seratus orang komunitas seni di Aceh. Tampak Ken Zuraida, ibunya Maryam, di kursi deretan belakang. Ken, istri mendiang penyair WS Rendra.

Maryam bercerita tentang Saguaro yang sudah berumur 16 tahun. “Usia band ini sama dengan usia persahabatan saya dengan Cahyo,” ujarnya. Seperti latihan musik saja. Di sela-sela obrolan, Maryam pun bernyanyi.

Denting gitar mengawali lagu kedua Saguaro. Dengan warna musik balada, lagu kali ini berjudul Gadis Penari. Jeda lagi, Maryam dan Cahyo terlibat dalam sebuah obrolan. Tak ada denting gitar, tak ada pula musik pengiring lainnya. Obrolan mereka seputar status Saguaro yang sampai sekarang tidak masuk dalam industri musik.

Lalu lagu ketiga mengalir lagi. Dengan konsep serupa, Saguaro malam itu membawakan 12 lagu. “Terimakasih kami buat Aceh, buat teman-teman di sini. Terutama buat ATJEHPOST, Tikar Pandan, GMA, Jaroe, dan komunitas-komunitas lain yang menyokong dan membantu kami selama di sini,” ujar Maryam.

Maryam dan Cahyo sepakat, dalam setiap penampilan mereka hanya membawakan lagu Saguaro sendiri. Keduanya menulis lirik sesuai pengalaman masing-masing soal cara pandang terhadap realitas hidup. Tapi menurut Maryam, setiap lagu yang ditulis tak melulu tentang kehidupan pribadi. “Ada beberapa lagu cinta yang saya tulis merujuk cerita teman tentang kisah cinta temannya yang unik.”

Malam itu, Ken Zuraida juga ikut naik panggung. Namun ia tidak bernyanyi. “Maksud datang ke sini tidak lain hanya untuk bertegur sapa saja. Musik Aceh kontemporer, tari Aceh kontemporer tidak kami dapatkan di Jawa. Untuk itu kami datang menjemputnya ke sini,” ujar Ken Zuraida.

Di lain waktu, Ken Zuraida menuturkan soal seni di Aceh yang seperti mati suri. Padahal sekitar 1990-an, kata Ken, seniman-seniman Aceh sangat terkenal. Bahkan pertunjukannya dinantikan di Taman Ismail Marzuki Jakarta. Kedatangan mereka dianggap seperti “pangeran” dan menjadi orientasi para seniman lainnya. “Aceh dulu punya banyak sutradara bagus, musisi, koreografi. Orang Aceh dulu kalau datang ke TIM kayak pangeran, bukan bajunya maksud saya, tapi jiwa mereka itu,” ujarnya ketika bertandang ke redaksi ATJEHPOSTcom, Rabu dua pekan lalu.[] ihn

Facebook Comments

Leave a Reply

%d bloggers like this: