Bermusik tanpa Hati, adalah Korupsi

Anti Corruption Day 2013

*

Sore itu kami duduk di sebuah warung kopi di seputaran daerah bisnis Peunayong, Banda Aceh dan menikmati sajian kopi sanger yang lezat sekali. Ada 5 orang duduk mengelilingi sebuah meja kecil berukuran 60 cm x 60 cm persegi yang diletakkan tepat di atas trotoar jalan Ahmad Yani. Cuaca sedikit mendung dan jalanan sedikit sepi, hanya ada sedikit riuh rendah para pedagang duren yang sedang mempersiapkan dagangannya di depan toko-toko yang sepertinya tidak ikhlas dengan kehadiran mereka. Wajar saja, mereka mencari nafkah dengan menutup kesempatan orang lain mencari nafkah dengan “benar”. Belum lagi ekses dari sampah durian yang sepertinya “sengaja” dibuang secara sembarangan, menimbulkan bau yang tidak sedap. Padahal dari dulu lapak untuk pedagang duren di Banda Aceh, secara informal berada di depan Lapangan SMEP Peunayong, yang tentunya tidak akan mengganggu orang lain secara langsung. Sering kali Pemerintah yang bertanggung jawab mengatur ketertiban pasar “tidak ada” di saat dibutuhkan.

Pembicaraan dimulai dengan pernyataan seorang teman, sebut saja namanya Ulis, yang mengomentari sebuah artikel mengenai Hari Anti-Korupsi Dunia dari sebuah website nasional melalui gadget baru miliknya. “Baru tahu, ada juga peringatan mengenai anti korupsi! Berarti korupsi sekarang ini memang sudah sangat keterlaluan sampai-sampai harus diperingati secara serentak di seluruh dunia.”

Seperti biasa, obrolan warung kopi khas orang Aceh pun langsung terjadi. Berlima kami punya teori  masing-masing yang tentunya secara “lawak” tidak jauh berbeda dari teori-teori para akademisi. Memang korupsi menjadi isu yang selalu hangat. Atau mungkin istilah yang tepat adalah “terlalu hangat” sehingga menjadi sangat mengkhawatirkan. Setiap saat, di media manapun pasti ada berita yang menyenggol topik korupsi. Ada saja kasus korupsi yang terungkap dan ada saja setiap harinya muncul publik figur yang menjadi “terduga” korupsi.

Percakapan yang ngalur-ngidul akhirnya menjadi sedikit lebih serius ketika salah satu dari “nara sumber” bertanya “Kalau di musik, ada korupsi juga gak ya?”

Sontak kembali bermunculan ide-ide kreatif dan teori-teori mengenai korupsi di dalam musik yang hadir bergantian sambung-menyambung. Ada yang bilang EO “mainin” budget artis adalah termasuk korupsi. Masih ada EO nakal yang nyunat performance fee ataupun malah tidak membayar sama sekali dan kabur. Contoh lain adalah produser yang membajak albumnya sendiri, sehingga si artis cuman mendapat royalti sebesar yang laku secara resmi saja. Artis yang mangkir dari tanggung jawab terhadap EO atau project owner juga dihitung sebagai korupsi. Masih banyak lagi teori-teori yang berseliweran secara liar di dalam diskusi hangat itu, hingga akhirnya temanku Iwan angkat suara: “Bermusik tanpa hati, adalah sebuah bentuk korupsi!”

Duaar! Bagaikan mendengar ledakan bom atom, kami semua tiba-tiba terdiam sejenak.

**

To play without passion is inexcusable!

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, korupsi berarti penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara (perusahaan dsb) untuk keuntungan pribadi atau orang lain. Dan korupsi yang dimaksud di dalam pencanangan Hari Anti-Korupsi Dunia ini adalah yang berhubungan dengan penyalahgunaan wewenang untuk mengambil keuntungan baik pribadi ataupun untuk orang lain.

Jadi apakah relevan  pernyataan Iwan “Bermusik tanpa hati, adalah sebuah bentuk korupsi!” dengan Hari Anti-Korupsi Dunia?

Bagi seorang pakar hukum jawabannya pasti TIDAK! Tetapi bagi kami berlima sepakat bahwa pernyataan itu benar-benar (baca: sah-sah) saja. Salah satu definisi di dalam bahasa Inggris untuk corruption adalah perusakan dan pembusukan. Tidak perlu harus terlibat “uang” di dalam definisi ini. Maaf, mungkin ini adalah sebuah pembenaran, tapi kami percaya bahwa di dalam seni, sesuatu yang dilakukan tanpa gairah, tidak akan menghasilkan karya yang indah. Dan itu adalah kejahatan!

Seorang Ludwig Van Beethoven pernah mengatakan  “To play without passion is inexcusable!”. Yang artinya kira-kira “tidak dibenarkan bermain musik tanpa gairah/hati.” Di dalam seni, apa pun itu, sesuatu yang dilakukan tanpa gairah akan menjadikannya hambar dan tidak bergairah pula. Sebuah pertunjukan apabila dikerjakan tanpa sebuah gairah pasti tidak akan menarik. Dan itu semua adalah corrupt/rusak.

***

Definisi Bermain Musik dengan Hati

Lalu apa definisi bermain musik dengan hati? Bagi saya maksudnya adalah setiap not/pukulan yang dihasilkan adalah benar-benar merupakan hasil ungkapan dari kata hati. Tentunya not/pukulan tersebut adalah sesuatu yang pernah dilatih; dan atau pernah didengar; dan atau pernah dibayangkan/difikirkan sebelumnya; yang kemudian diseleksi dengan sadar atau tidak sadar oleh “hati” dan dikeluarkan/dimainkan dengan sunguh-sungguh di dalam situasi yang cocok/sesuai atau kondusif, dengan penuh kecintaan dan gairah.
Dan definisi ini berlaku untuk sebuah pertunjukan dimana terjadi interaksi antara pemusik dengan penonton baik langsung maupun tidak langsung (melalui media video atau rekaman lainnya), dimana kedua belah pihak bisa merasakan efek yang “indah” dari permainan tersebut. Tentu saja pengertian “indah” adalah sangat abstrak dan relatif sesuai genre yang digemari oleh kedua belah pihak, dan tergantung dari “kesungguhan” dari kedua belah pihak. Pendengar atau penonton akan ikut merasakan isi hati si musisi dari musik yang dimainkannya, apakah itu sedih atau riang.

Jadi, apakah tidak mungkin ada not yang dikeluarkan dari “hati” didapatkan dari situasi yang benar-benar spontan? bukan sesuatu yang didapat dari latihan, atau bukan sesuatu yang didengar sebelumnya, atau bukan sesuatu yang sudah dibayangkan sebelumnya?

Jawabannya adalah mungkin saja! Banyak inovasi (baca: karya) di musik ditemukan di dalam situasi spontan. Tetapi sesuai batasan definisi yang saya buat diatas, kedua belah pihak (musisi dan audience) harus terlibat. Sebuah inovasi (baca: karya) yang didapat secara spontan biasanya akan diolah/dilatih berulang kali dahulu sebelum menjadi sebuah bentuk karya yang baku dan dipertunjukkan ke khalayak.

Muncul pertanyaan lagi, bagaimana memainkan sebuah karya musik dengan sungguh-sungguh dan  dari hati?

Beberapa maestro musik modern, seperti Steve Vai, menegaskan bahwa diperlukan pengorbanan dan kesungguhan di dalam menghasilkan sesuatu yang menghibur, yang juga memberikan perasaan merdeka dan kebanggaan akan pencapaian/keahlian bagi si pemusik. Pengorbanan itu antara lain belajar dan belajar, serta berlatih dan berlatih. Vai bahkan mempunyai resep untuk melatih body and facial language (bahasa tubuh dan mimik muka) yang mencerminkan isi hati si pemusik, agar penonton bisa ikut merasakan suasana hati si musisi.

Si Raja BluesB.B. King terkenal sangat nge-groove ketika memainkan musiknya. Di dalam suatu kesempatan wawancara dia menjawab pertanyaan apakah ada rahasia tertentu di dalam memainkan Blues sedasyat yang dia mainkan? King menjawab “Rahasianya adalah berlatih! Demikian juga dengan musik yang lain. Jika kau mau bermain dengan baik, maka kamu harus melatihnya.”

Eric Clapton mungkin jari-jarinya tidak “secepat” Steve Vai, tetapi dia juga menghabiskan banyak waktu untuk belajar dan berlatih, sehingga bisa menghasilkan permainan dan karya yang sangat indah dan penuh pujian. Bermain seperti Clapton memerlukan bakat dan pengorbanan yang sangat besar.

Seorang musisi yang mempunyai tingkat kemahiran yang tinggi, akan mudah memindahkan isi hati dan gairah ke dalam permainannya.

Susah dong bermain dengan hati?

Ya dan tidak! Semua tergantung kemauan dan tingkat kepuasan. Beberapa orang sudah puas dan senang bermain dengan ilmu yang “biasa-biasa” saja, dan itu sah-sah saja selama si musisi diterima.
Bagi saya, masih panjang sekali perjalanan untuk mendapatkan kondisi bermain musik dengan penuh gairah/hati yang akan menyenangkan audience dan diri saya sendiri. Tetapi saya tidak akan pernah berhenti mengejarnya.

Jadi, bermain musik tanpa hati adalah korupsi? Siapa yang akan menghukum?

Ya! Selama itu dikerjakan asal-asal, tanpa gairah dan tidak disukai oleh pendengar maka itu adalah kejahatan! Yang akan menghukum adalah para pendengar!

Bagaimana dengan pemula dan anak-anak yang baru belajar musik? Mungkinkah mereka bermain musik dengan hati?

Mungkin! Selama mereka terus belajar dan berlatih dengan benar, pasti bisa! Banyak musisi yang sukses di masa muda dan bermain penuh passion dan soul, dan ini adalah buah dari kerja kerasnya.

So, let’s practice, be an expert and play with passion! And stop yourself from “corruption”!

****

(Teuku Mahfud)

Facebook Comments

Leave a Reply

%d bloggers like this: