Kejujuran jazz di Unsyiah

 

 ABDUL AZIS | Foto : @Khairi Tuah Miko/ATJEHPOSTcom | Minggu, 16 Juni 2013 17:36 WIB

DI ATAS panggung dengan panjang 10 meter, beberapa anak muda berjingkrak. Seorang perempuan bernyanyi membawakan tembangnya Bruno Mars, Granade. Penonton tak ramai, hanya ratusan orang yang duduk di atas kursi plastik di dalam gedung yang baru dibangun beberapa tahun lalu itu.

Anak-anak muda yang berasal dari Jurusan Seni Drama Tari dan Musik (Sendratasik) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala itu tambah semangat bermain musik ketika beberapa orang dari Jakarta memasuki gelanggang itu. Mereka makin memacu irama musiknya. Betapa tidak, yang datang siang itu adalah musisi nasional sekaligus maestro musik jazz Indonesia, yaitu Dwiki Darmawan dan beberapa musisi lainnya.

“Bangga kami bisa tampil di depan Dwiki,” kata Evan, mahasiswa Sendratasik FKIP Unsyiah, yang siang itu menggebuk drum di atas panggung.

Dwiki Darmawan memasuki Gelanggang Mahasiswa Unsyiah bersama Pembantu Rektor III Universitas Syiah Kuala Profesor Rusli Yusuf, Wali Kota Banda Aceh Mawardy Nurdin, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh Adami Umar.

Siang itu, Sabtu, 8 Juni 2013, di Gelanggang Mahasiswa Universitas Syiah Kuala, Klinik Jazz Banda Aceh 2013 dihelat. Acara yang diinisiasi oleh The Atjeh Times dan ATJEHPOSTcom, serta digelar oleh Atjeh Jazz itu memadukan pementasan sekaligus diskusi musik jazz bersama Dwiki Darmawan.

Ketua panitia acara dari Atjeh Jazz, Ahmad Mirza Safwandi, mengatakan acara itu mereka gelar untuk tujuan pendidikan. “Ini bukan hanya pementasan, tapi juga pembelajaran,” kata Ahmad Mirza.

Karena bertujuan pendidikan, kata Mirza, acara itu didukung oleh Universitas Syiah Kuala dan lembaga-lembaga mahasiswa yang ada di Unsyiah, di antaranya BEM Fakultas Teknik, BEM FISIP, BEM Fakultas Pertanian, Himpunan Mahasiswa Psikologi, BEM Fakultas Ekonomi, BEM Fakultas Hukum, Himpunan Mahasiswa Sendratasik, UKM Baskom Fakultas Hukum, dan juga UKM Seni Putroe Phang.

Di luar Unsyiah, acara itu didukung oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Banda Aceh, Gabungan Musisi Aceh, Sekolah Musik Moritza, Komunitas twitter @iloveacehrayeuk, Flamboyant FM, dan Sekolah Musik Farabi Jakarta.

Dari Jakarta, Dwiki membawa beberapa guru musik yang biasa tampil bersamanya di berbagai acara, seperti gitaris Agam Hamzah, Adi Darmawan, Gerry Herb, Marwan, serta Milky May yang merupakan band anak didik Dwiki di Sekolah Musik Farabi, Jakarta.

Musisi dari Aceh yang mengisi acara tersebut adalah King of Fire & NAD Project dan Moritza Thaher Trio.

***

KLINIK Jazz Banda Aceh 2013 diawali penampilan Milky Way, band jazz asal Jakarta yang beberapa bulan lalu tampil dalam salah satu festival musik jazz terbesar di Asia, Java Jazz 2013. Milky Way berisi anak-anak remaja yang berusia belasan. Salah satu dari mereka merupakan anak Aceh, Aufar, yang bermain bass.

Setelah Wali Kota Banda Aceh Mawardy Nurdin dan Pembantu Rektor III Unsyiah Profesor Rusli Yusuf membuka Klinik Jazz Banda Aceh 2013, Dwiki mengawali penampilannya dengan satu tembang dari Bimbo, Rindu Rasul.

Irama syahdu dari piano yang dimainkannya siang itu berpadu dengan petikan gitar Agam Hamzah. Dentuman drum yang dimainkan Gerry Herb juga tak kalah membuat ratusan penonton yang siang itu memadati gelanggang mahasiswa bertepuk tangan.

Dwiki mengaku tak memberi tahu Agam Hamzah dan kawan-kawan kalau dia akan membawa lagu itu. “Spontanitas saja,” kata Dwiki yang diikuti tepuk tangan penonton.

Selesai satu lagu, Dwiki membuka sesi tanya jawab. Dia mengatakan, tanya jawab lebih baik daripada penonton yang hanya melihat dia bermain. “Saya berharap ada yang bertanya tentang apa yang dimainkan,” kata dia.

Dwiki mengaku tak hanya ingin memberikan sesuatu kepada para penonton, tapi juga ingin mendapatkan sesuatu dari penonton.

Kiki, begitu namanya sering dipanggil, angkat bicara dan menanyakan beberapa hal kepada Dwiki Darmawan. Dia mengawali bicara dengan kesannya terhadap Dwiki. “Apa yang Abang mainkan hari ini sudah merusak musik, menyesatkan, tapi kami menikmatinya,” kata Kiki. “Musik sudah berjalan ke mana-mana, tapi asyik sekali.”

Dwiki mengaku terkejut dengan pertanyaan itu. Kepada The Atjeh Times dia mengaku mendapatkan kata-kata baru dari Kiki, mahasiswa Sendratasik FKIP Unsyiah yang sebelumnya juga tampil bersama band-nya ketika Dwiki Darmawan tiba.

Dwiki menjelaskan, apa yang dia lakukan di atas panggung adalah bentuk improvisasi dalam musik jazz. “Improvisasi kita memang lumayan, makanya dia tersesat mendengarnya. Padahal kita tidak merasa tersesat,” kata Dwiki kepada The Atjeh Times setelah pementasan tersebut.

Dia menamsilkan, improvisasi dalam jazz yang dilakukan dengan skill seperti seorang yang sedang berjalan di jalur yang sudah ada kemudian berbelok, masuk hutan melihat pemandangan yang indah, berputar-putar, dan kemudian kembali lagi ke jalur yang ada.

Di atas panggung Dwiki menjelaskan, dalam bermain jazz kejujuran sangat penting. Seorang pemain jazz, kata dia, tidak boleh melakukan improvisasi dengan tipuan. Kekuatan skill dalam jazz tidak bisa dikamuflase. Jika melakukan improvisasi dengan tipuan, hal itu akan langsung diketahui. Improvisasi, kata Dwiki, harus dilakukan dengan jujur dan jelas.

Seorang musisi jazz, kata dia, harus mengawali dari bawah hingga kemudian mencapai skill yang tinggi. “Seperti seorang yang melukis, tidak mungkin dia langsung bisa melukis abstrak jika sebelumnya tidak melukis realis,” kata dia. “Seorang pelukis tetap harus melukis gunung atau yang tampak, baru kemudian bisa melukis abstrak.”

Dwiki menjelaskan, dalam musik jazz bersemayam nilai-nilai yang selama ini hidup dalam masyarakat Indonesia seperti spiritualitas, kejujuran, kerja sama, dan keadilan serta persatuan.

Dia mencontohkan beberapa lagu jazz yang selalu membawa tema-tema cinta secara luas, yaitu cinta kepada Yang Maha Kuasa dan juga cinta kepada alam semesta. Berbeda dengan musik populer yang selama ini ada yang banyak berbicara tentang cinta dalam arti sempit, cinta antara sepasang manusia. “Jazz juga berbicara tentang perdamaian dan kasih sayang,” kata dia.

Kerja sama, kata dia, bisa dilihat dari apa yang dilakukannya di atas panggung. Setiap pemain jazz, saling pengertian bermain satu sama lain. “Setiap pemain mendapatkan porsi atau momentum yang sama untuk berimprovisasi, itulah keadilan dan kerja sama,” kata Dwiki. “Jazz memiliki peran saling menghormati satu sama lain dengan memberi ruang kepada setiap pemain.”

Dia juga menjelaskan, yang diperlihatkannya dalam lagu Rindu Rasul membuktikan jazz musik yang dinamis dan mengajarkan bagaimana bersatu serta bermusyawarah.

Di dunia musik jazz, kata Dwiki, meski terkadang personilnya berlatar belakang aliran musik berbeda, tetapi dapat bersatu. “Dalam musik jazz setiap musik yang dimainkan harus beyond limited, tanpa batas. Musisi siap grak atau selalu siap dalam segala hal.”

Kepada The Atjeh Times dia juga menjelaskan, jazz ideal dengan karakter orang Aceh yang ekspresif. Banyak musisi jazz Indonesia saat ini berasal dari Aceh. Dengan banyaknya alat musik tradisional di Aceh, kata Dwiki, terbuka lebar ruang kolaborasi antara jazz dan musik lokal.

Dia mencontohkan, musik jazz tidak pernah mendominasi musik lokal ketika berkolaborasi. Mereka selalu mengedepankan irama rapa-i atau alat musik lainnya ketika berkolaborasi. “Kita hanya sebagai pengiring, jazz tidak boleh mendominasi. Saya tidak mau menghancurkan seni musik lokal di Indonesia yang sangat kaya ini,” kata musisi yang sudah enam kali datang ke Aceh ini.

Dwiki tidak setuju jika dikatakan jazz musik modern. Baginya, jazz berakar dari seni musik lokal. “Saya ingin mengangkat seni tradisional dalam derajat yang setinggi-tingginya.”

Siang itu, Dwiki dan kawan-kawan membawa dua lagu. Setelah Rindu Rasul miliknya Bimbo, dia kembali membawakan satu lagu Aceh, Tarek Pukat, yang pernah dipopulerkan Rajawali Band pada awal 2000-an.

Setelah penampilan Dwiki, King of Fire mengisi panggung dengan membawakan beberapa lagu. Pementasan Klinik Jazz Banda Aceh 2013 ditutup dengan penampilan Moritza Thaher Trio.

***

WALI KOTA Banda Aceh Mawardy Nurdin mengungkapkan, pementasan musik di Banda Aceh merupakan kebutuhan masyarakat yang harus dipenuhi. Dia menginginkan festival musik jazz bisa digelar setiap tahun di Banda Aceh. “Ini bagian dari kebutuhan masyarakat,” kata Mawardy. “Klinik Jazz Banda Aceh 2013 merupakan hiburan dan juga pembelajaran.”

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Adami Umar, yang menonton penampilan Dwiki hingga selesai mengatakan bisa kembali merasakan kesegaran setelah menyaksikan penampilan Dwiki dan kawan-kawan.

Adami menyatakan salut kepada Dwiki yang mampu memadukan musik jazz dengan berbagai latar belakang jenis irama sehingga nikmat didengar.

Jazz benar-benar mendidik dan memberikan sesuatu yang baru, apalagi yang memainkan seorang maestro jazz Indonesia.”

Ketua Gabungan Musisi Aceh, Teuku Mahfud, mengaku puas bisa tampil di Klinik Jazz Banda Aceh 2013. Mahfud yang tampil bersama Moritza Thaher mengatakan, apa yang dijelaskan Dwiki Darmawan dalam Klinik Jazz Banda Aceh 2013 merupakan sesuatu yang langka.

“Rugi jika ada musisi Aceh yang tidak melihat penampilan maestro ini, Klinik Jazz ini betul-betul memberi ilmu bagi musisi muda di Aceh,” kata Mahfud.

Kiki, yang sebelumnya bertanya kepada Dwiki juga tak bisa menyembunyikan rasa gembiranya. Dia bahkan berjanji pada Marwan, peniup saksofon yang datang bersama Dwiki, untuk memperdalam ilmu tentang saksofon. “Semoga acara-acara seperti ini bisa sering digelar. Kita bisa berinteraksi dengan musisi besar, bisa melihat penampilannya sekaligus belajar,” kata Kiki. “Ini penting bagi Aceh.” []

Source: ATJEHPOST

Facebook Comments

Leave a Reply

%d bloggers like this: