Mengenang Anwar Nasution: pionir, edukator dan musisi senior Aceh

Anwar Nasution

Banyak musisi senior Aceh meminta kepada redaksi Acehmusician.org untuk menulis mengenai sosok seseorang yang dianggap berjasa di dalam mengembangkan kesenian, khususnya musik di Banda Aceh. Beliau bernama ANWAR NASUTION, pendiri sekolah musik APRIMA VISTA, yang telah membuka pikiran dan memberi bekal kepada banyak musisi Aceh untuk berkiprah.

Kami berkesempatan mewawancai Firdaus Nasution, salah seorang anaknya yang juga adalah edukator piano electone dan gitar klasik, untuk menggali kisah mengenai Pak Anwar, demikian dia disebut. Berikut rangkuman sejarah Almarhum Anwar Nasution, salah seorang pahlawan musik Aceh.

*

Anwar dilahirkan pada tanggal 9 Oktober 1930 di kota Idi, Aceh Timur, putra dari Muhammad Nur Nasution, seorang masinis yang bekerja untuk perusahaan kereta api Hindia Belanda Atjeh Staats Spoorwegen. Anwar menghabiskan masa kecilnya dan bersekolah SD di Langsa hingga akhirnya sang Ayah dipindahkan ke kota Lhokseumawe.

Di Lhoksemawe, Anwar yang masih berusia 9 tahun mulai tertarik dengan alat musik dan belajar kepada pionir musik dan musisi senior Aceh saat itu, almarhum Pak Radjab, yang juga merupakan ayahanda dari rekan satu sekolahnya Muis Radjab (note: Muis Radjab nantinya menjadi salah satu musisi papan atas Indonesia). Bersama Pak Radjab, Anwar mempelajari gitar, suling dan harmonica. Dari Pak Radjab juga, Anwar kemudian mempelajari piano dan alat musik tiup (brass). 

Perubahan era dari masa kolonial  Belanda ke zaman kependudukan Jepang, hingga merdekanya Indonesia, dilalui Anwar muda dengan tetap bermain musik. Kepiawaiannya bermusik mengantarkannya untuk bergabung dengan korps musik militer di Aceh ketika dia berusia 19 tahun.

Pada tahun 1952 Anwar melarikan diri ke Medan, hingga akhirnya dijemput kembali secara khusus oleh Syamaun Gaharu (kemudian menjadi Pangdam Iskandar Muda yang pertama). Anwar setuju untuk kembali dengan syarat tidak harus menjadi tentara. Ketika Kodam Iskandar Muda terbentuk pada tahun 1956, Anwar bergabung di Sitdam (sekarang Ajendam IM). Anwar kemudian menjadi pegawai Dinas Kesehatan dan tetap aktif di korps musik Kodam Iskandar Muda.

Anwar ternyata berbakat juga di dalam dunia pendidikan. Dia menjadi pengajar di Sekolah Keperawatan Kesehatan Rumah Sakit Umum pada tahun 60-an dan mengajar  Kesenian dan Etika Keperawatan. Pada awal 1970-an, beliau mengajar di PGSLP jurusan Kesenian. Di luar pendidikan formal, Anwar juga mengajar musik di Bina Musika Taman Budaya pada tahun 1974/1975.

Pada tahun 1957 dia menikahi pujaan hatinya Hasniar Hs. Pernikahan ini menghasilkan 3 putri dan 2 putra, antara lain Yulinda (lahir Juli 1959, sarjana musik ISI Jogja), Mufti Elmizra (lahir Oktober 1960), Firdaus (lahir Agustus 1962, sarjana Teknik Sipil Unida), Dewi Koriati (lahir Juli 1964, sarjana ISI Jogja), dan Sri Yulianti (lahir Juli 1967, sarjana Geofisika UGM).

Di antara semua anaknya, hanya Mufti yang tidak mengikuti jejaknya bermain musik. Yang lainnya kelak sangat piawai memainkan piano, biola, gitar dan alat tiup.

**

Pada bulan Februari 1978, Anwar Nasution membuka kursus musik pertamanya yang diberi nama APRIMA VISTA. Ide nama ini diambil dari istilah Latin a prima vista yang berarti memainkan musik sambil membaca notasi/tablature. Untuk pertama kalinya Aprima Vista menempati sebuah ruko yang terletak di Jalan Ahmad Yani Peunayong. Setahun kemudian, sekolah musik tersebut pindah ke Jalan T. Panglima Polem hingga tahun 1980.

Tahun 1980, Aprima Vista pindah lagi. Kali ini ke rumah Pak Anwar di belakang Puskesmas latihan Blang Padang (sekarang berdiri Rumah Sakit Ibu dan Anak). Rumah tersebut sudah ditempatinya sejak tahun 1959.

Setahun di Blang Padang, Aprima Vista mendapat kepercayaan dari Yamaha Musik Indonesia untuk menjadi dealer alat musik Yamaha, dan mendapatkan lisensi untuk menerbitkan sertifikat pendidikan musik dengan kurikulum Yamaha.  Sekolah tersebut terus-menerus melahirkan musisi hingga akhirnya hancur diterpa bencana tsunami pada tahun 2004.

Bersama beberapa staf pengajar, dan juga dibantu oleh anak-anaknya Yulinda, Firdaus (Buyung), Dewi dan Sri Yulianti; Pak Anwar membuka kelas untuk anak-anak hingga dewasa dan mengajar Piano, Electone, Gitar Klasik, Biola, Cello, dan lain-lain. Didalam mengajar, beliau selalu mengarahkan para siswa untuk bermain musik dengan mengunakan notasi.

***

Firdaus yang mengajar sejak tahun 1981 hingga 1989 mengisahkan, ayahandanya Anwar Nasution adalah seorang yang sangat disiplin dan tegas. Beliau sangat teliti dan menginginkan siswa-siswanya untuk selalu serius di dalam belajar. Bahkan di dalam berpakaian pun, seorang siswa dituntut untuk hadir dengan berpakaian rapi dan memakai sepatu. Menggunakan sendal atau alas kaki lainnya adalah dilarang. Walaupun demikian, beliau adalah seorang yang humoris. Di dalam suasana yang santai, beliau akan dengan mudah mengeluarkan lawakan-lawakan lucu yang akan menghibur orang-orang di sekililingnya.

Di luar kesibukannya mengajar musik, Pak Anwar mempunyai hobi memancing dan menjala ikan. Aktifitas bertukang juga sangat digemarinya. Apabila ada kesempatan, beliau selalu berusaha untuk tidak pernah melewatkan menonton pertandingan olahraga tinju, baik yang disiarkan di televisi ataupun menonton langsung di gedung olahraga. Beliau juga suka dengan aktifitas di dapur, terutama di saat menjelang hari raya Idul Fitri atau Idul Adha. Beliau akan mempertunjukkan keahliannya di dalam membuat tape dan menganyam ketupat yang akan digunakan untuk memasak lontong. Hobby lainnya adalah bermain dan mendengarkan musik, terutama yang bertipe soft.

Pak Anwar sangat menikmati mendengarkan piringan hitam atau kaset dari musisi seperti Dizzy Gillespie, Louis Armstrong, Idris Sardi dan Frank Sinatra. Tak ketinggalan lagu-lagu yang digubah atau diaransemen oleh sahabatnya Muis Radjab (30 Agustus 1931 – Mei 1982). Selain nama-nama terkenal tersebut, beliau tentunya akan dengan senang hati duduk mendengarkan musik-musik berjenis klasik, boogie-woogie dan swing jazz.

****

Akhirnya panggilan itu datang. Janji untuk menghadap Sang Khalik terpenuhi pada tanggal 26 Desember 2004. Bersama istri tercinta Hasniar Hs, dan kedua anaknya Yulinda dan Mufti; Pak Anwar meninggalkan kita ketika bencana alam dasyat gempa bumi dan tsunami melanda Aceh. Rumah dan tempat mengajarnya di belakang Puskesmas di daerah Blang Padang, Banda Aceh, hancur-lebur dan porak-poranda. Mereka semua tidak ditemukan jenazahnya. Pak Anwar menutupkan matanya di usia 74 tahun (baca: Daftar Musisi Aceh Korban Tsunami 2004).

Satu lagi putrinya, Dewi Koriati meninggal karena kanker pada tahun 2006 di Jogja. Hanya Firdaus dan Sri Yulianti (kini tinggal di Yogya), anak-anak Pak Anwar yang masih ada.

Dua orang cucu Pak Anwar dari Firdaus, yang bernama Jovi Firustian dan Gillan Iskandar, meneruskan jejak sang Kakek untuk bermain musik. Mereka berdua merintis sebuah studio musik di Banda Aceh yang diberi nama APRIMA VISTA (baca: Daftar Studio di Banda Aceh). Jovi adalah seorang gitaris dan Gillan bermain drum untuk musik-musik berjenis populer. Mereka berdua merencanakan akan mempertahankan nama tersebut dan kelak akan membuka kembali sekolah musik yang telah dirintis oleh Pak Anwar.

Pak Anwar, engkau memang sudah tiada, tetapi namamu abadi di dalam ingatan kami.

*****

Facebook Comments

3 thoughts on “Mengenang Anwar Nasution: pionir, edukator dan musisi senior Aceh

  • August 10, 2014 at 4:16 am
    Permalink

    Alfatihah,,utk almarhum & almarhumah. Semoga Allah swt menerima semua amal ibadah mereka, serta diampunkan segala dosanya. Aamiin.

    Reply
  • October 22, 2014 at 3:03 pm
    Permalink

    Alm bpk Anwar adalah maestro Musik Aceh, Hampir smua alat musik bisa di mainkan termasuk pembacaan notasinya, ini cerita Ayah Saya Nama Erwin ,(0811684950)pernah mengajar gitar klasik bersama Alm Bpk Sofyanis, Smoga Alm mendapatkan tempat yg Layak di sisi ALLA SWT, AMIN YA RABBAL ALAMIN…..

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: