Obituary: J.J. Cale (1938 – 2013)

J.J. Cale Photo: Tim Jackson/WireImage
J.J. Cale Photo: Tim Jackson/WireImage

Oleh Iqbal Apx | Gitaris dan pencinta Blues |

Aku terkejut dan sedikit shock ketika membaca notifikasi dari RSS Feeder majalah Rolling Stone di smartphone-ku, kemarin (27/07): “Singer-Songwriter JJ Cale Dead at 74“. Seribu pertanyaan dan rasa penasaran berkecamuk di dalam dadaku:

“Benarkah berita ini?”

“Benarkah J.J. Cale yang itu?”

Dan berbagai pertanyaan lain muncul ketika aku mencoba membuka link berita yang dimaksud, yang sayangnya sempat tidak serta-merta terbuka dikarenakan jaringan internet yang disediakan provider-ku mendadak “lambat”. Setelah menunggu beberapa lama berita itu bisa kubaca dan memang benar dia, J.J. Cale  yang beberapa lagunya adalah lagu wajib bagi musisi-musisi pencinta blues.

Mungkin banyak yang tidak tahu siapa itu J.J. Cale. Tidak para pencinta musik yang awam, tidak juga beberapa  musisi yang kukenal disini. J.J. Cale mungkin selama ini hanya tersebut namanya di beberapa diskusi mengenai blues oleh beberapa penggemar blues, termasuk diriku. Ya! Namanya muncul “hanya” di dalam diskusi-diskusi yang membicarakan betapa hebatnya Eric Clapton, betapa kerennya lagu-lagu Eric Clapton,  dan “betapa-betapa” lainnya yang memuja-memuja si Mister Slowhand.

Sebagai seorang penggemar Clapton, aku tentu mencoba menyelami rahasia-rahasia dibalik semua licks, grooves, lirik dan apapun itu yang berkaitan dengannya. Beberapa lagu hits Clapton yang ikut menabalkan dirinya sebagai salah seorang Dewa Gitar Blues dunia adalah diantaranya Cocaine dan After Midnight. Kedua lagu itu adalah ciptaan J.J Cale yang kini almarhum.

J.J. Cale adalah seorang gitaris Blues kelahiran Oklahama City, 74 tahun yang lalu. Kepiawaiannya bermain dan menciptakan lagu memang tidak usah diragukan. Tidak hanya After Midnight dan Cocaine, hits band Southern RockLynyrd Skynyrd yang berjudul Call Me the Breeze juga adalah ciptaannya. Dan beberapa lagu lainnya, yang sukses di tangan musisi lain.

Rolling Stones juga mengutip sebuah wawancara Cale dengan Chicago Sun Times di tahun 1990:

“I’m a background person,” Cale told the Chicago Sun Times in 1990. “I’m not a household name. People have heard my music, but all my famous songs were made famous by somebody else. . . . But that was my goal.”

Cale adalah orang di belakang layar. Hidup dengan anonimitas. Jarang muncul di media, bahkan konon jarang muncul di konser-konser. Tapi Cale tetap aktif berkarya dan rajin mengeluarkan album. Tercatat ada 14 album studio, 1 live album, 3 album kolaborasi, dan 9 album kompilasi, yang dikeluarkan olehnya (Source: Wikipedia).

Sebuah album yang digarap bersama Eric Clapton di tahun 2006 yang berjudul The Road to Escondido, memberikannya sebuah anugerah musik paling bergengsi: Grammy Award untuk kategori Best Contemporary Blues Album di tahun 2008. Album yang didedikasikan untuk organis/pianis legendaris Billy Preston, yang wafat di tahun itu, memberikan sebuah klimaks yang sangat manis bagi Cale di dalam perjalanan karirnya yang sangat panjang. Dunia pun mengakui, betapa hebatnya bakat dan musikalitas J.J. Cale. Dia bukan lagi Cale yang hanya muncul sebagai songwriter credit yang tercetak dengan huruf-huruf berukuran kecil di album-album musisi Blues dunia, tapi dia adalah J.J. Cale yang Legendaris.

Selamat jalan J.J. Cale! Karyamu akan abadi untuk selama-lamanya.

VIDEO AFTER MIDNIGHT by J.J. CALE

VIDEO COCAINE by ERIC CLAPTON

VIDEO CALL ME THE BREEZE by LYNYRD SKYNYRD

Facebook Comments

Leave a Reply

%d bloggers like this: