Obituary: UDIN (1970 – 2014)

udin

Innalilahi wainna ilaihi rajiun,

Satu lagi musisi Aceh dipanggil Sang Ilahi. Udin Keyboard telah menghadap-Nya Jum’at (17/10/14) pukul 6 pagi di rumah sakit Zainal Abidin Banda Aceh, setelah tidak sadarkan diri sejak sore sehari sebelumnya. Dia telah dirawat inap di rumah sakit tersebut sejak tanggal 26 September 2014 karena kanker yang ada di kepalanya (baca: Semoga cepat sembuh, Bang Udin!).

Almarhum disemayamkan di rumah duka di Jalan Seulawah, Seutui dan dimakamkan hari itu juga pada pukul 11 pagi sebelum ibadah shalat Jum’at, di pemakaman umum Gampong Seutui, Lorong Sibayak.

Pria yang bernama asli Alauddinsyah ini dikenal sebagai sosok yang periang, humoris dan ramah. Udin memulai bermusik sebagai gitaris ketika bersekolah di SMA Muhammadiyah Banda Aceh. Kemudian menjadi pemain keyboard ketika mendapat tawaran bermain reguler di Hotel Kuala Tripa di awal tahun 90-an. Udin lalu bergabung dengan grup musik hard rock Pollutant bersama Ray (vokal), Iwan Kadal (gitar), Emi (drum) dan Epi (bass) dan sempat mengharubirukan panggung rock Aceh era 90-an. Udin juga ikut mendirikan Peut Voice yang beranggotakan Cut Ika Liana, Ayi, dan Fuad El Yamani, yang meninggal Maret yang lalu.

Sehari-hari Udin bekerja sebagai pegawai negeri sipil di Polresta Banda Aceh, dan aktif memimpin The Police Band,  sebuah kelompok musik yang bernaung dibawah korps kepolisian Aceh. Udin meninggalkan seorang istri Ayu, dan tiga orang anak Via, Uci dan Sultan.

Udin meninggalkan kita enam hari menjelang ulang tahunnya yang ke 44 tanggal 23 Oktober 2014.

*

Acehmusician.org meminta beberapa musisi Aceh untuk menuliskan testimoni mengenai Udin, seperti yang kami kutip di bawah ini:

Deddy Mulia, drummer Seuramoe Reggae dan The Police Band.

“Bang Udin adalah abang yang paling enjoy sedunia. Suka ketawa, gak pelit, banyak cerita lucu dari beliau. Aku banyak belajar tentang musik dari beliau juga. Setia kawannya sangat besar.”

Frizy Rizky, penyanyi, MC dan penyiar radio.

“Dia orang yang humble, smart dan kreatif banget dalam bermusik. Mingle dengan siapa aja… Gaya ketawanya khas banget, ala – ala slow motion gitu. Setiap orang yang request lagu, tidak pernah bilang ‘Gak bisa Bu/Pak’. He always tried to be a professional player. He was one of the best musician we’ve ever had.”

Zakwannur/Iwan Kadal, gitaris, pernah bermain dengan Udin di Pollutant Band.

“Hanya Udin yang kalau dia marahin kita, kitanya malah senyum.”

Dewi Silvia, penyanyi, korps paduan suara Bhayangkari

“Banyak yang berkesan dari Bang Udin. Setiap latihan nyanyi, paduan suara atau vocal group selalu jadi pemain keyboard andalan kami (ibu-ibu Bhayangkari). Bang Udin is the best. Tidak pernah lelah walaupun kita latihannya selalu sampai larut malam. Selamat jalan Bang Udin, begitu banyak kenangan bersama Bang Udin. Kami sangat kehilangan. Terima kasih atas hari-hari latihan bersama kami, Bhayangkari.”

Aulia Rohendi, penyanyi, announcer, pernah satu band dengan Udin di King of Fire.

“Saya mengenal bang Udin kira-kira 8 tahun lalu saat dia mengiringi grup vokal kami. Dia adalah seorang quick learner, terbukti ketika saat latihan sebelum berpentas keesokan harinya, ada seorang istri pejabat yang ingin menyanyikan sebuah lagu baru tetapi bang Udin belum familiar dengan lagu tersebut. Bermodalkan lagu dalam format mp3 di telepon genggam seorang kawan, saat itu juga dia mendengarkan lagunya sambil mencari chords, dan tak lama kemudian si ibu sudah bisa latihan lagu tersebut dengan iringannya.
Bang Udin pernah mengiringi saya bernyanyi ketika mendadak dipersilakan ke panggung di tengah-tengah kontes bernyanyi. Saat itu saya membawakan lagu “Lately” berduet dengan seorang teman. Pernah juga dia menjadi musisi pengiring untuk acara ulang tahun Radio Flamboyant, dan saya sempat menyanyikan satu lagu di saat itu.Bang Udin tahu banyak lagu-lagu populer, tetapi dia tidak segan bertanya dan belajar pada musisi yang lebih muda. Misalnya ketika kami bertemu di Rumah Musik Cibloe, dia belajar singkat bagaimana mengisi bagian pianoin the jazz way kepada dr. Nadi.
Bang Udin adalah seorang yang ceria dan menyenangkan. Selalu saja ada sisi yang lucu saat kita sedang kumpul. Apakah itu cerita nostalgia bermusik zaman muda dulu (saya cuma menyimak), atau kenakalan-kenakalan versi remaja mereka. Belum lagi cerita-cerita menggelikan saat dia dan teman-teman tampil dalam berbagai acara. Atau keusilan pikirannya dalam menerjemahkan sesuatu yang sedang menjadi isu atau bahasan saat itu. Tawa-tawa yang tercipta saat itu masih membekas saat kita bubar, sampai lama..
Saat mendengar kabar sakitnya, saya sempat bertanya kepada beberapa teman tentangnya, apa sakitnya. Saya malah berencana ketika pulang ke Indonesia dalam waktu dekat, saya mau menjenguknya. Tapi sayang, seribu sayang, Bang Udin sudah duluan meninggalkan kita semua. Saya tahu kabar duka ini ketika terbangun tengah malam (waktu Belanda) dan membaca update status BBM teman-teman. Sempat menyesal tidak berusaha memberikan semangat kepadanya walaupun secara jarak jauh.. Hanya ingatan tentang senyum, tawa, keseruan-keseruan yang dialami bersama, dan kebaikan-kebaikannya yang tertinggal,.. di hati kita semua.
Selamat jalan bang Udin.. Semoga Allah memaafkan dosa-dosamu, menerima amalmu, dan menempatkanmu di tempat yang mulia..  Aamiin!”

Gading Hamonangan Hs, produser, pencipta lagu

“Saat mengisi piano pada lagu ‘Kami Ada Untukmu’ yang sengaja didedikasikan bagi penderita thalassemia dalam album charity GMA ada obrolan seperti ini: Saya mengatakan ‘Bang, intronya keren!’ Mendiang menjawab ‘sengaja milih template yang ini, heaven song!’
Baru 1 kali garap aransemen bersama Bang Udin, gak pernah nyangka itu untuk yg terakhir rupanya. Sekali tapi berarti! Banyak yang bisa diajak bekerja, Bang Udin sedikit diantara yang paling asyik diajak untuk bekerja sama. Saya berdoa semoga ‘heaven song’ itu adalah pertanda abang menuju surgaNYA. Terima kasih Bang, semoga segala amal ibadah almarhum diterima disisi Allah Swt. Amin.”

Afrizal Masni, keyboardist,

Allahumma fi’rlahu warhamhu wa’afihii wa’fuanhu……….
Allahumma tahrimna ajrahu wala taftimna ba’dahu wa’rfirlana walahu…….”

Suhaimi Lili, drummer Pollutant,

“Selamat jalan sahabatku, saudaraku Udin. Semoga segala amal ibadah diterima Allah SWT.
dan keluarga yang ditinggalkan mohon tabah dengan cobaan ini. Kamu selalu ada di hati kami.”

Teuku Mahfud, drummer, Ketua GMA

“Bang Udin orangnya lucu dan murah hati. Banyak sekali kisah-kisah lucu darinya yang dijamin bisa bikin perut sakit. Dia kuat sekali begadang. Dulu sering sekali ditelepon jam 12 malam ke atas untuk nemani dia minum jus di Rex Peunayong.
Bersama Ulis, dulu kami bertiga sering mancing di sekitar pelabuhan ikan baru Lampulo ketika baru selesai dibangun. Gak peduli hujan atau terik, gak peduli ada ikan atau tidak, pokoknya mancing! Bertiga juga kami pernah menggarap sebuah proyek funky yang diberi nama ‘Orkes Disco Apollo Pimpinan Bapak Mukhlis Fitriadi’ yang membawakan lagu-lagu dari Kool and The Gang dan Earth, Wind and Fire. 
Dimana ada Bang Udin, suasana pasti meriah. Selamat jalan big brother, semoga surga menjadi pelabuhan barumu.

Popi Gade, penyanyi senior

“Udin dan Kak Popi teman satu kampung dan sudah sejak lama kenal. Juga dengan kel Udin, karena sama-sama pernah tinggal di Seutui. Udin selalu rendah hati dan selalu sabar kalau mengiringi penyanyi, dan Kak Popi selalu nyaman nyanyi kalau Udin yg iringi, mau lagu dirubah menjadi gaya Kak Popi, Udin selalu ikutin dan Kak Popi selalu puas.. Udin main slalu manual, dan salah satu pemain keyboard terbaik yang Kak Popi kenal.”

Tebonk Muntazier, bassist Inverno

“Kangen mendengar cerita beliau, dia pasti cerita pengalaman lucu-lucu. Beliau selalu menghibur kawan-kawan dengan cerita-cerita pengalaman lucunya.”
***
Facebook Comments

One thought on “Obituary: UDIN (1970 – 2014)

  • October 17, 2014 at 11:17 pm
    Permalink

    sekitar 2/3 bln yang lalu sempat menjenguk , dengan kecurigaan prognosa yang buruk, can't say more words now, my heart has broken.. innalillahi wainnaaillaihi raaji'un…

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: