Sound Grave hantui Kediri hari ini

Sebuah gig musik ekstrim baru yang menampilkan band-band papan atas, dipastikan akan mencuri perhatian pencinta musik metal di Kota dan Kabupaten Kediri. Gig yang diberi nama Sound Grave akan dihelat di Hall Rasa Sayang, Kediri, Jawa Timur, Minggu, 16 Juli 2017 dari jam 11 pagi hingga pukul 5:30 petang.

Tiga belas band band metal keren akan berbagi panggung dengan nama-nama seperti Killharmonic, Tenggorokan, Immortal Rites, dan lain-lain diantara para penampil.

Read English article about this show here: Prepare thy-self the mighty Kingdom of Kediri Citizen! For thou shall see Sound Grave!

Awal 2017 ini band yang bermarkas di Kediri, Kilharmonic merilis album studio yang ke-empat, yang meneguhkan kegemilangan mereka selama dua puluh mengembara dalam sejarah musik metal di Indonesia. Album dengan nomor katalog ARM039 dari Armstretch Records yang berjudul Hymn of the Apocalypse dirilis pada tanggal 1 Maret 2017. Kreatifitas dan kejeniusan gitaris Wisnu Arta Wardana tidak diragukan lagi telah membawa Killharmonic menapak ke level berikutnya.

Lagu-lagu yang berasal dari Hymn of the Apocalypse masuk dalam set list yang mereka mainkan ketika tampil di festival metal yang paling prestigius di Asia Tenggara: Hammersonic 2017, tanggal 7 Mei lalu.

Sejak kelahirannya tahun 1997, Kilharmonic telah merilis 4 studio album masing-masing Hatred Diminished in Dismembered Head (2000), Hate That Never Set (2002), Human Race Disgrace (2010), dan Hymn of the Apocalypse (2017); serta sebuah EP yang berjudul Supressed Denied Controlled (2009).

Formasi teranyar Killharmonic terdiri dari Wisnu (guitars), Bayu Widyatmoko (vocals), Deny Pandu Purwasanjaya (bass) dan B-Lee (drummer).

Wisnu Arta Wardana (dikenal dengan nama panggilan Innu) merupakan satu-satunya anggota asli yang tersisa.

 

Band blackened death metal Immortal Rites dikenal senang memasukkan unsur bahasa Jawa Kuno dan elemen musik Jawa di dalam karya-karyanya, dengan lirik yang membicarakan sejarah dan mitos dari daerah setempat. Album debut mereka yang berjudul Api dari Timur (dirilis oleh Ludah Productions tahun 2007) dan EP terakkhir berjudul Bhra Garudakrodha Dahanapura (dirilis oleh label indie Russian Satanarsa Records bulan Maret 2016) merupakan bukti sahih yang tidak dapat diragukan lagi.

Immortal Rites didirkan pada tahun 1997 sebagai Demon Curch, kemudian berubah menjadi Immortal Rites tahun 1998, oleh Dwe Farmosath (bass), Arifin (vocals), Andik Sabenu (guitars), dan A’ar (drums).

Gitaris Doni Wicaksono, yang bergabung pada tahun 2000 dari Iconoclasm adalah satu-satunya personil yang terlibat di dalam semua rekaman Immortal Rites. Formasi terakhir beranggotakan Doni (guitars), dan Aris Kutes (drums).

Immortal Rites termasuk salah satu band black metal yang muncul di Where Do We Go, sebuah rockumentary mengenai pergerakan musik black metal di Indonesia. Film tersebut disutradarai oleh pembuat dokumenter asal Yogyakarta Hernandes Saranela tahun 2016.

Di tahun yang sama, bersama Saranela, Immortal Rites memproduksi sebuah video klip untuk single Medang In Mataram Land, yang masuk di dalam split album Kuasa Kegelapan bersama band black metal asal Malaysia Atrocious.

Cerita mengenai band brutal death metal Tenggorokan bisa dilacak jauh ke tahun 1998, dimana band ini didirikan sebagai salah satu projek untuk Innu dari Killharmonics. Band yang kemudian tidak aktif selama bertahun-tahun, diaktifkan kembali oleh mantan drummer Pantekosta/Hate Stroke di tahun 2005.

Dengan formasi terdiri dari Viky (vocals), Yahness (drums), Iwan (bass) dan Ricky Rangga (guitars), band ini merilis debut EP yang berjudul The End of Earth pada tanggal 1 Januari 2011 melalui label indie asal Malang Brutal Die Inc..

Perubahan line up yang besar terjadi ketika Ricky Rangga cabut karena jarak yang jauh dan kemudian bergabung dengan legenda death metal SiksakubuR. Kondisi ini menyebabkan Yahness bertukar posisi menjadi pemain gitar, dan Tenggorokan kemudian merekrut drummer Yuna dan bassist Martin.

Formasi anyar ini kemudian merekam lagu untuk album debut full-length Execution of Death, yang dirilis oleh Disembowel Records tanggal 8 Maret 2015.

Tenggorokan merilis video musik untuk single Abad Biadab tanggal 24 Februari 2016.

Drummer Muhammad Harispa Anugra Alimnoarie merupakan epicentrum dari band brutal death metal Critical Disaster. Drummer tersebut mendirikan band ini tahun 2010. Setelah beberapa kali pergantian personil, Critical Disaster merilis debut Brutality of Human Cannibalism melalui East Breath Records tahun 2016.

Setelah rilisan tersebut, Harispa ditinggalkan oleh personil lainnya. Dengan modal sepuluh lagu baru, dia merekam sendiri semua instrumen untuk album kedua di Nesu Productions. Album kedua yang berjudul Brahmavidya Shuddha Dhahanapura dirilis pada tanggal 15 Maret 2017 oleh label indie Spanyol Pathologically Explicit Recordings.

Dengan formasi terakhir yang berisikan Haris (drums), Mochamad Rizal Tanjung (bass), Muhamad Ilham Mubarok (guitars), dan Arga Prasetia (vocals), Critical Disaster sedang mengerjakan album ketiga sejak Mei 2017, akun Facebook mereka mengabarkan.

Sereignos iadalah veteran black/death metal asal Kediri, yang didirikan pada tahun 1998 oleh Erwin (vocals), Swar (guitars), Oky (guitars), Hermawan (bass) dan Anggik (drums). Band ini bubar pada tahun 2005 dan dibentuk kembali pada tahun 2011 dengan formasi baru beranggotakan Yudiagusta (vocals), Dimas Midgard (guitars), Bimo Nethail (guitars), Widodo Herfagre (bass) dan Vermozel (drums).

Vermozel cabut pada tahun 2013, dan digantikan oleh Agryans. Ketika sedang menggarap rekaman untuk debut Total Havoc tahun 2014, Agryans keluar dan Wahyu Warbeleth bergabung dengan Sereignos.

Kugiran tersebut merilis Total Havoc pada tanggal 25 November 2014 melalui label Evil Prevails Productions yang bermarkas di Yogyakarta. Wahyu keluar tahun 2016 dan digantikan oleh Jimmy Adi Wijaya. Bersama Jimmy, Sereignos merekam album kedua yang berduku Desecration Era, dirilis tanggal 31 Oktober 2016 oleh label Colorado, Death Portal Studio.

Sereignos akan memainkan serangkaian lagu seram di Sound Grave, yang terdiri dari Blastodest, Prokhaos Artileri, Atomic Nuclear Desolation (Blasphemy cover), Negator, dan Atomik Predator Palangsabit.

****

Tirto Joyoboyo, promotor yang menyelenggarakan Sound Grave berbincang dengan www.Musik.or.id mengenai even tersebut. Dia mengatakan ini pertama kalinya dia mengadakan gig dan sepenuhnya memakai dana sendiri.

SOUND GRAVE LINE UP

KILLHARMONIC
TENGGOROKAN
IMMORTAL RITES
KALAHARI
DAAD
MUSHROOM
CRITICAL DISASTER
SEREIGNOS
STAGNANT
STRAIGHTWAY
SADISTIC
EMBODIMENT
KRASS ASSAULT

 

Tiket Sound Grave tersedia dengan harga 20 ribu perak (free soft drink). Untuk informasi lebih lanjut mengenai even ini, pihak promotor bisa dihubungi di nomor 083846070022.

*****

Facebook Comments

One thought on “Sound Grave hantui Kediri hari ini

Leave a Reply

%d bloggers like this: