Kisah Musisi Aceh menjalani Ramadan di Taiwan

Pepno

Pepatah “tuntutlah ilmu hingga ke negeri Cina” ternyata sangat mempengaruhi Febri Rahadi alias Pepnosaurus di dalam memutuskan pilihan kemana dia harus pergi untuk melanjutkan studinya. Pepno sekarang berada di tahun keduanya berkuliah di Republic of China, atau secara informal dikenal sebagai Taiwan. Mahasiswa postgraduate di Yuan Ze University ini sedang menyelesaikan program Master di bidang Finance/keuangan. Di artikel ini kami meminta Pepno untuk mengisahkan suka-duka berpuasa di negeri yang mayoritasnya non-muslim itu.

Pepno menceritakan kepada kami bahwa puasa yang paling enak tentunya di rumah sendiri: ada masakan keluarga yang familiar dan sangat cocok di lidah, dan …. Sirup Cap Patung. Tetapi sebagai mahasiswa yang hidup di perantauan tentu saja tidak boleh banyak mengeluh.Taiwan sebagai negera sub-tropik, berbeda iklimnya dengan Indonesia. Ramadhan kali ini bertepatan dengan musim panas yang memang sangat panas dan panjang masa siangnya.

“Pada awal Ramadan, Muslim di Taiwan berpuasa dari jam 3:40 pagi hingga jam 7 sore. Musim panas kali ini betul-betul panas. Subuh hari saja suhu bisa mencapai 29 derajat Celcius.”

Serangan panas sedang terjadi di daerah China sekarang. Yang terparah di daerah China daratan, suhu bisa mencapai 40 derajat Celcius.

Alhamdulillan, cuaca dan masa berpuasa yang lebih panjang tidak menyurutkan semangat Febri di dalam berpuasa.

“Di kampus ada sekitar 20 mahasiswa muslim dari berbagai negara, dan 7 dari Indonesia. Tentunya berbuka puasa yang nikmat itu dilakukan beramai-ramai. Kami biasanya berbuka puasa gratis di mesjid Longgang yang bisa ditempuh selama 20 menit dari kampus dengan bersepeda.”

Bersepeda adalah hal yang lazim dan merupakan budaya yang sehat di negara R.O.C. Mesjid Longgang yang selesai dibangun tahun 1964, awalnya diperuntukkan untuk pemberontak Muslim Burma dan tentara muslim China yang mengungsi ke Taiwan ketika Perang  Saudara di China antara Partai Komunis China dan Partai Kuomintang. Kuomintang adalah partai yang berkuasa di Taiwan.

“Mayoritas muslim yang tinggal disekeliling Mesjid Longgang adalah muslim yang berasal dari Myanmar dan Thailand. Jadi menu utama di Mesjid ini adalah makanan asam dan pedas khas Thai dan Myanmar. Untuk tajil biasanya kurma dan teh susu Nai Cha yang nikmat.”

Resminya di mesjid ini, Shalat Tharawih dilaksanakan mengikuti Mekkah, 20 rakaat dan 2+1 rakaat untuk Witir tanpa qunut. Tapi ada juga yang melaksanakan 8 rakaat saja. Disini tidak ada ceramah. Setelah Isya dan shalat sunnat,  langsung dilanjutkan shalat Tharawih.
“Sejam sudah selesai 20 rakaat.”
Febri juga menceritakan mengenai toleransi sesama muslim yang sangat menarik di Taiwan.

“Nggak ada ribut-ribut soal 8 atau 20 rakaat, ada yang shalat bersedekap ada yang enggak…

“Terus gak ada cekcok adu-adu siapa yang paling shaleh, siapa yang sesat. Masing-masing punya dalil.

“Ada juga jamaah Syiah, walau cuma datang pas shalat Juma’at, itu pun gak rutin, Walau beda dikit cara shalat (misalkan abis shalat Jumat tetap dilanjutinDhuhur) atau berbuka tunggu gelap total, tapi gak ada ribut-ribut juga…”

Febri Rahadi adalah bekas gitaris  band Black Metal Izazil, yang sangat terkenal di kalangan underground Banda Aceh. Mereka selalu tampil dengan body painting ketika menjajah crowd metal Taman Budaya di akhir 90-an dan awal 2000-an.
“Kami Black Metal Syariah, gak ada protes-protes Tuhan. Yang diprotes cukup pemerintah saja.”
Tahun 2003, Bersama Waled (vokal), Febri  membentuk  Panglima (kemudian berubaha menjadi Shock Drama) yang memainkan Modern Rock digabung dengan musik-musik etnik Aceh. Disini Febri bermain bass gitar. Shock Drama sempat rekaman 4 lagu di Bandung. Sejak 2010 Shock Drama vakum hingga sekarang.
(TM)
Facebook Comments

Leave a Reply

%d bloggers like this: