In Memoriam Putra Alex (1977-2004)

Putra Alex

Untuk Mengenang 9 Tahun Gempa dan Tsunami Aceh, redaksi Acehmusician.org akan mempersembahkan beberapa tulisan mengenai sahabat-sahabat kami, musisi Aceh yang hilang/tewas ketika tsunami mengamuk tanggal 26 Desember 2004. Ada puluhan nama yang mengisi sebuah daftar parsial yang kami susun (baca: Daftar Musisi Aceh Korban Tsunami 2004), namun untuk bagian pertama tulisan ini kami akan menulis mengenai salah seorang gitaris handal Banda Aceh yang bernama Putra Alex alias Gus Dur. Kami mencoba mengumpulkan sisa-sisa kenangan mengenai beliau dari penuturan beberapa rekan di grup facebook resmi Gabungan Musisi Aceh, dan disempurnakan dengan melakukan wawancara langsung.

Testimoni Teuku Mahfud

Ketua GMA, Teuku Mahfud adalah seorang drummer yang pernah bermain lama dengan Putra Alex menuturkan:

Nama asli Putra Alex adalah Juliansyah Putra. Sering dipanggil Gus Dur karena bentuk badannya yang tambun, berkacamata, dan suka bercanda persis seperti almarhum Presiden ke-4 Indonesia, Abdurrahman Wahid.

Alex hilang kala bencana tsunami datang 26 Desember 2004. Ketika itu dia baru beberapa bulan menikah dengan Ipah, seorang dara yang dipacari beberapa tahun sebelumnya. Menurut abangnya Ichsan, saat itu Alex berada di rumah mereka di kawasan Punge Jurong bersama Ipah, dan kedua orang tuanya. Rumahnya rata dihajar ombak, semuanya hilang, kecuali ada kerangka mayat perempuan dibalik tembok rumah tersebut yang diduga sebagai mayat Ipah.

Berita mengenai Alex kuperoleh dua minggu setelah musibah itu (diralat setelah sebelumnya ditulis sebulan, red). Saat itu kami sedang mengurus evakuasi Ayah Mertuaku yang mayatnya ditemukan di daerah Punge Blangcut ketika bertemu Ichsan di jalan dekat Kapal Apung.  Ichsan memberitakan Alex hilang dan diduga sudah meninggal. Jangan ditanya bagaimana perasaan aku. Kami berdua sangat dekat. Beberapa hari sebelum 26 Desember 04, kami berpas-pasan di jembatan Lampaseh (jembatan di depan Jambo Kupi Apa Kaoy). Saat itu aku menuju pulang ke rumah kami di Deah Glumpang, dan dia sedang jalan2 dengan Ipah. Tidak seperti biasanya, Alex tidak banyak bicara, padahal biasanya dia sangat meriah kalau kami berjumpa. Ada saja yang diulok dan ada saja yg bisa kami sharing. Tidak disangka, ternyata itu adalah pertemuan terakhir kami.

Sedikit story mengenai siapa Alex: Alex dilahirkan Juli 1977, dia adalah adik kelasku di SMPN 1 Banda Aceh. Ketika SMP dia sudah bermain gitar dan sangat keren. Sempat dikeluarkan dari SMP 1 dan pindah ke SMP yang di dekat Geuceu Complex (alasannya gak disebut). Kami berjumpa lagi ketika bersekolah di SMA 3. Band pertama Alex adalah Laskar Band, spesialis bawa Heavy Metal dan Power Metal, musik-musik seperti Iron Maiden dan Edane. Saat itu sudah kelihatan bakat dan dedikasinya untuk musik. Parte suka main ke rumah dia di Geuceu, karena banyak komik dan video game, jadi tempat yang cocok untuk kabur dari rumah.  Kalau ke rumah dia, pasti kedengaran suara gitar dengan distorsi yang disetel kencang-kencang. Alex alias Putra bisa berjam-jam latihan gitar.
Gaya permainan Alex berorientasi shredder. Tapi dia bisa main berbagai jenis musik dan berbagai gaya gitar. Dari Jazz hingga Grindcore. Sehari-hari dia suka mendengar Lee Ritenour, Chick Corea Elektric Band, Toto, Dream Theater dan MR Big. Bisa disimpulkan gitaris favoritnya adalah Ritenour, Frank Gambale, Steve Lukather, John Petrucci dan Paul Gilbert.

Kami mulai bermain bersama ketika bersekolah di SMA 3 dalam beberapa kesempatan jamming, hingga akhirnya kami sama-sama bergabung dengan band Keumala Dua pada tahun 1996. Saat itu Alex sudah menjadi mahasiswa Fakultas Ekonomi Jurusan Manajemen Unsyiah. Kemudian kami bermain di beberapa band projekan.
Pada tahun 1997, Putra pindah ke Jakarta untuk mencoba peruntungan di sana.  Pasca kerusuhan Mei 98, Putra pulang ke Banda Aceh dan akhirnya bergabung lagi dengan ku di  Puri Band yang waktu itu mendapat kontrak bermain selama setahun sebagai homeband Rodya Cafe bersama Maiwan (bass), Heri Mulianto (keyboard), Alfi Syahri (vokal), dan Ulis (bass). Putra menggantikan posisi Nadisyah dan Resa Adilaksana yang fokus mempersiapkan diri di ujian akhir sekolah.

Pada akhir 1998 kami bergabung dengan Pastel band yang dimotori Ambiya (keyboard), Satria Satok (bass) dan Ari Bambang Lesmono (vokal). Pastel adalah band cover Dream Theater dan berlima kami sering menjuarai beberapa festival yang diadakan di Banda Aceh. Pastel pada tahun 2000 menjadi duta seni Universitas Syiah Kuala diutus untuk bermain di UNES Semarang, dan kami sepanggung dengan Padi Band yang sedang meroket popularitasnya di Indonesia. Sayangnya Putra tidak bisa ikutan karena Mama tercinta tidak mengizinkan. Perlu rekan-rekan ketahui, gitaris kita yang satu ini merupakan kesayangan mamanya dan sangat manja.

Kami mulai jarang bermain bersama ketika Aku menikah dan memulai usaha. Posisiku di Pastel digantikan secara bergantian oleh Eko , dan adikku Teuku Mahlil yang kala itu masih SMA. Putra dan Pastel menjadi wedding band di acara resepsi kami.

Walau waktu itu aku sudah tidak aktif di musik, tetapi kami sering ngopi bersama di Ulee Kareng, atau di PIN studio yang dimiliki Jal Botak.

Tak disangka pertemuan beberapa hari sebelum tsunami adalah kala terakhir kami bersua.

Rest in Peace brother! kupanjatkan Al Fatihah untuk mu sahabat! Miss you!

Testimoni Budi Dbm Bukit

Gitaris kelompok musik metal top Banda Aceh, Disgorged Bowel Movement atau DBM, Budi Bukit, menceritakan kisahnya bersama Putra Alex:

Aku sekelas dengan Putra di SMP 5 Geuceu Komplex (sekarang bernama SMP 7) ketika dia pindah dari SMP 1. Kami sekelas tidak ada yang tahu Putra ini adalah anak Band. Tahunya dia seorang gitaris ketika ramai-ramai nonton Live On Stage 1993 di Taman Budaya. Putra bermain bersama Iron Steel yang digawangi Maiwan Syah (bass) dan Block Putra (drum) mewakili Fakultas Teknik Unsyiah. Waktu itu dia masih kelas 1 SMA, tetapi udah main bersama musisi-musisi senior.

Testimoni Teuku Mahlil

Drummer Teuku Mahlil, kini berdomisili di Jepang, pernah bermain bersama Putra Alex ketika bergabung dengan Pastel, menuturkan:

Bang Alex itu guitarist yang langganan dapat Gitaris Terbaik di banyak festival. Dan dia salah satu gitaris yang paling saya senangi untuk jamming, karena:

1. Dia super jago
2. Tahu banyak lagu
3. Selalu mainin komposisi yang sangat sesuai dengan musiknya.

Kalau jamming bersama dia bisa lebih dari 3 jam dan gak akan bosan, dan bahkan gak akan habis bahan-bahan yang kita mainin. Bahkan dahulu dalam seminggu bisa 2 atau 3 kali jamming sama dia. Kalau jamming sama dia itu paling sering mainin lagu-lagu Dream Theater, Mr. BIG, Al Jarreau dan banyak lagi. Bahkan paling asik kalau lagi jamming mainin komposisi yang dia bikin, bakal terasa luas sekali gaya permainannya dan materi yang dia punya juga banyak. Pokoknya dia top deh!.

Satu lagi tentang bang Alex, Selain jago main guitar, saya senang dengan gaya sehari-harinya yang sangat low profile. Bahkan kalau kita ngeliat penampilannya sehari-hari, orang gak akan menyangka kalau dia itu seorang gitaris.

Testimoni Fernezza Bobby

Vokalis Fernezza Bobby, dari grup musik B.O.B. dan  V for Vendetta mengenang Putra ALex dengan mengatakan:

Putra Alex paling kuat begadang, ketawanya ngalahin orang maen batu, pecinta kopi, mirip Gus Dur, trus anti fashion, tampil apa adanya, gak ketinggian orangnya, aku sering diajak begadang waktu dulu sebelum aku ngamen di Jogja, jemput ke rumah naek Honda GL pro, terus orangnya gampang berkeringat, terus yang paling aku ingat saking anti fashionnya dia pernah manggung pake sendal (kelupaan),

Kalo aja aku bisa bikin game, akan kubuat dia jadi tokoh di game Guitar Heroes!

Testimoni Rizal Sulaiman Yusuf

Gitaris Jal Botak yang merupakan pemilik PIN Studio, tempat Putra Alex biasa  ngumpul dan jamming di era 2000-an, menuturkan:

Banyak sekali kenangan bersama Alex Gus Dur, secara aku sudah kenal dia sejak SD. Aku paling suka ejek dia karena dari dulu “setelan” dia gak pernah berubah: baju kemeja, celana kain dan kacamata (ala) Gus Dur. Pernah sekali aku marahin dia karena ikut-ikutan fitness. Aku bilang sama dia: “Apa qe gak maen gitar lagi? Qe hibah aja gitar untuk aku?”, Dia cuman bisa manyun…

Testimoni Mj Eric Setiawan Seru

Novi Karno alias Eric, vokalis Regent dengan terharu menuturkan:

“I love you saudaraku Alex … mudahan di sana begitu indah mendapatkan surga … (tetap) semangat yang masih hidup di dunia ini…terus berdoa buat saudara2 kita telah tiada…amiiin.”

Testimoni Putra Petrozzo

Putra Petrozzo, gitaris Deep Tan Oil yang juga adalah pengelola Studio Metazone Lingke akhir 90-an menuturkan:

“Aku dekat sekali sama dia, dari dulu memang udah jago. Dia suka datang di studio dan jamming disini sampai akhirnya Metazone tutup dan pindah ke Ulee Kareng tahun 2000. Orangnya setia, asik diajak sharing. Gitar Ibanez RG nya sering dipinjam parte kalau ada festival. Saking jagonya, dibikin mabok aja tetap jago…”

Satu kalimat yang sering dia bilang ke aku kalau lagi main di Taman Budaya:

“Kalau aku maen, qe atur anak-anak depan jangan senamin aku!”

Catatan: komunitas death metal dan punk di Taman Budaya suka senam/menari-nari menggangu konsentrasi band hard rock/ prog rock yang bermain di Open Stage terutama di event band kompetisi. Walau kelihatannya menggangu, setelah acara selesai, yang senam dan yang disenamin kembali duduk ngopi bareng dan tertawa-tawa.

Testimoni T. Maksum Hafis

Gitaris/vokalis T Maksum Hafis menceritakan suka dukanya bersahabat dengan Putra:

Aku kenal Alex sejak kelas satu SMP 1. Dia kelas 1-7  dan aku kelas 1-8. Di angkatan kami bisa dibilang dia yang paling tinggi besar. Bayangin anak kelas satu SMP rata-rata 130-140 cm, dia tinggi 165 dengan kaki berbulu sampe aku tanya ke dia: “Qe kelamaan di TK ya Put…?”

Alex juga yang ngenalin aku ke gitar gara-gara dia ajak aku main di ruang Pak Erwan guru elektro. Dia tes gitar dari sound yang Pak Wan bikin. Keren! Tapi masih pemalu. Dia ngajarin aku beberapa kunci lagu waktu itu. Tapi gak hafal-hafal hahahaha…. 
Alex bisa dibilang John Petrucci-nya Banda Aceh, cuma lebih hebat! Bayangkan dengan jari-jari sebesar jempol kaki tapi gak ada yg slip waktu maen. Dan aku yakin John Petrucci pasti gak bakal bisa maen gitar dengan jari-jari yang besar kayak si Alek. Awesome!

Good old days…

Allahhumma firlahu wa afii wa fuanhu.

Rest in peace bro!

Testimoni Alfisyahrin M. Beni

Gitaris Pastel sekarang dan Dosen Fakultas Teknik Unsyiah, Alfis M Beni, memberi komentar mengenai Putra:

“Ya saya beberapa kali nonton Pastel tampil, sound gitarnya alm. Alex bagus settingannya. Jelas, tegas dan tajam sehingga distorsinya terdengar tebal. Karena sulit untuk menset sound yg bisa dikatakan dadakan di panggung karena sering berbeda dengan di tempat latihan/studio. Alm. Alex piawai dalam hal itu.”

Testimoni Ari Pastel Lesmono

Vokalis Ari Baso, rekan satu band Putra di Pastel menulis:

“Met jalan bang..semoga amal n ibadah diterima di sisi Allah Subhanawataala …”

Testimoni T Febi Akbar

Gitaris T. Febi Akbar satu angkatan dengan Putra di SMA 3 Banda Aceh, kemudian pindah ke Jakarta, menulis:

“Al Fatihah buat Alex walaupun hanya sekali ngobrol dengan Alm. Alex di Jakarta…. we miss you friend… :(”

Testimoni Ichsan Sahputra

Vokalis Ichsan adalah abang kandung Putra, menanggapi versi pertama tulisan ini:

“Amin… terimakasih semua atas doanya, semoga Allah mengampuni dosa-dosa almarhum, dan perbuatannya yang menyenangkan orang lain dapat menjadi amal ibadah, Amin.”

Testimoni Yan Leuser

Gitaris Hard Layer band, Bembeng menulis:

“Gitaris Idola Aku nih… Al Fatihah.”

*****

Kenalkah kamu dengan Putra Alex? Tulis pengalaman kamu di kolom komen di bawah ini!

Facebook Comments

10 thoughts on “In Memoriam Putra Alex (1977-2004)

  • Pingback: Daftar Musisi Aceh Korban Tsunami 2004 - acehmusician.org

  • December 24, 2013 at 12:29 pm
    Permalink

    Trims fud, utk share articlenya. Aq bnr2 dibawa k masa lalu, trutama waktu festival bawain dream theater. Aq brsyukur pd Allah SWT bisa kenal mendiang. Dia bnr2 lowprofile, baru pada kaget waktu liat dia main gitarnya 🙂 we love him, smoga Allah SWT jg mencintainya. Amiin.

    Reply
  • December 25, 2013 at 1:25 am
    Permalink

    Putra adalah gitaris kami di Laskar Band dan beliau adalah personil termuda dimana pada saat itu icsan (vokal), ricky (bass), ocik (keybord), sadly (rhytem gitar) dan saya sendiri Fauzan Ridha( drum) sudah duduk di bangku SMA kelas 1 dan beliau masih SMP. Permainan beliau sangat luar biasa. Orangnya humoris, dan kami semua akan selalu merindukan dia. Semoga beliau ditempatkan yang layak di sisi Allah SWT….amin

    Reply
  • December 25, 2013 at 12:44 pm
    Permalink

    Jazakumullah khairan katsira buat adinda semua, teman2 nya Putra,..ketika membaca tulisan dan testimoni dari kalian semua utk putra, sbg kakak putra saya sangat terharu dgn apresiasi adinda semua, air mata sy tdk kunjung berhenti membaca tulisan ini, 9 taon telah berlalu, tapi luka ini msh belum ilang, malam jumat sebelum tsunami putra kerumah kk dewi, kami sgt dekat, benar putra diam sekali, malam minggunya putra telp kerumah, dan hanya utk mengucapkan "kak Awik aku rindulah sama qe "…cuma kata itu saja, trs telp diputusinnya, itulah kt terakhir dari putra, ya Allah tempatkan adikku tercinta disisiMU, bukan pintu syurgaMU…insya Allah kita akan bertemu lagi dek di SyurgaNYA Allah ketika saatnya tiba…salam syg utk adinda semua ( Dewi Mayasari / kakak kandung Putra Alex )

    Reply
  • December 25, 2013 at 3:10 pm
    Permalink

    Kita semua sayang sekali dengan putra, kak dewi. Tetapi ternyata Allah lebih sayang lagi. Miss you Tra

    Reply
  • December 25, 2013 at 3:11 pm
    Permalink

    Pak, aku lupa qe yang main dg Laskar dulu!! Si Kiki dan si Ocik dimana sekarang ya?

    Reply
  • December 25, 2013 at 3:40 pm
    Permalink

    na'am mahfud,..semua yg terjadi atas kehendakNYA, dan pasti ada hikmahnya,..makasi ya dek utk sygnya buat putra,..ralat sedikit #buka ( td terketik bukan) pintu syurgaMU

    Reply
  • February 18, 2014 at 11:28 pm
    Permalink

    Kiki sekarang ada di banda Aceh jadi pak Jaksa, sementara Ocik gak tau dimana rimbanya, ada yg bilang di Jakarta

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: