PKA; Perlu jujur pada realitas Aceh

Photo Source: Atjehpostcom
Kautsar | Photo Source: Atjehpostcom

Pekan Kebudayaan Aceh VI (PKA) tidak lengkap tanpa kehadiran acara sabung ayam/peulet manok, peupok leumo/adu lembu dan geudeu-geudeu/gulat aceh. Bukankah semua tradisi tersebut bagian dari produk kebudayaan Aceh masa lalu?

Ada budayawan mempersoalkan kebudayaan Aceh yang semakin hari tak lagi fungsional. Masyarakat bergerak menjauh dari tradisi kebudayaan lama. Misalnya, di dapur tidak ada lagi rengkan, guci penyimpan asam sunti, batu giling bumbu, kruet u dan jeue tampoe breuh. Diluar rumah tak ada lagi jeungki dan krong pade.

Aceh mewarisi kebudayaan agraris. Ada banyak tradisi dalam aktifitas ekonomi masyarakat seperti; khauri blang, peusijuk keude, larang pantang di laut, sawah dan gunung serta pesta panen yang tak kalah menarik dibanding kebudayaan agraris di Amerika Serikat. Kesemuanya tak lagi fungsional di zaman sekarang.

Tentu banyak mitos dan takhyul sebagai sound track kearifan filosofi agraris. Ketika Islam menjadi budaya popular di Aceh, tradisi yang tumbuh ialah Islam agraris yang tentu berbeda dengan Islam merkantilis yang berkembang di Arab dan Turki abad pertengahan.

Mitos dan agama dalam kebudayaan agraris berfungsi sebagai pemberi nilai; patut, benar dan salah. Tentu ia juga menjadi mesin peniada kebudayaan sebelumnya.

Perubahan Budaya

Kebudayaan selalu datang dan pergi. Lalu terganti oleh yang baru. Mesin pencipta dan perubah kebudayaan lama ke kebudayaan baru adalah: Hubungan-hubungan dalam interaksi ekonomi dan politik. Di antara keduanya muncul teknologi sebagai simbol ilmu pengetahuan dan pemicu yang mempercepat perubahan itu terjadi.

Masih teringat dipikiran saya, bagaimana orang Aceh awal 80-an menolak modernisasi pertanian yang gencar dicanangkan Orde Baru. Masyarakat menolak memakai traktor karena dianggap lari dari tradisi. Menolak memakai mesin perontok karena perannya menghapus keakraban gotong royong pada aktifitas ceumeulho. Mencemooh sarjana pertanian yang dianggap hanya bertani di buku bukan disawah.

Di tempat tidur, masyarakat menolak memakai kontrasepsi karena dianggap melawan kodrat dan agama. Menilai televisi sebagai sarana perusak budaya. Ada tradisi berbeda antara gampong yang sudah dengan gampong yang belum dialiri listrik. Masyarakat kota dan pedesaan. Apa yang melatarbelakangi perbedaan dan perubahan?

Jawabannya: ekonomi, politik dan teknologi. Ketiga hal inilah yang menjadi alat perubah kebudayaan.

Posisi PKA dalam kebudayaan Aceh

PKA menjadi museum atau etalase kebudayaan masa lalu dan masa kini. Ada fungsi yang berbeda: Kepada generasi muda yang tak pernah hidup di era kerbau membajak sawah PKA bisa menjadi media pengetahuan tentang evolusi nenek moyang sekaligus wahana mengenali identitas imaginer sebuah masyarakat yang diberi nama Aceh.

Kepada generasi tua yang saat ini hidup dalam dunia facebook dan twitter, PKA menjadi wahana nostalgia dan intropeksi pencapaian imajinasi komunitas.

“PKA bisa menjadi media pengetahuan tentang evolusi nenek moyang sekaligus wahana mengenali identitas imaginer sebuah masyarakat yang diberi nama Aceh.”

Untuk mendapat sentuhan budaya pop, PKA harus mampu dikemas menjadi ajang rekreasi lintas generasi, budaya dan bangsa; tentu harus terbebas dari sentuhan nilai kekinian baik agama mahupun politik.

Untuk itu, pertandingan geudeu-geudeu, sabung ayam, peupok darut kleng, peupok leumo dan piasan lain yang untuk saat ini dinilai tidak patut sebaiknya juga dimunculkan sehingga masyarakat umum dapat memberi nilai kekinian kepada kebudayaan lama dan kebudayaan baru.

Tentu ada efek romantisme berlebihan dari setiap even yang menampilkan harmonisasi kebudayaan lama. Efek ini muncul pada orang-orang tua dan bahkan anak muda yang lelah, pesimis dan gagap dalam dinamika saat ini. Atau kelompok agamawan dan politisi yang takut akan kesemrautan budaya post modernism. Muncul ajakan dari mereka untuk kembail ke masa lalu dengan harmoni kebudayaan lama.

Menurut saya, kita perlu jujur pada realitas. Kebudayaan ialah produk waktu, tentu memiliki tenggat waktu. Menutup tulisan ini ada hadits Nabi yang menarik dicermati. Beliau bersabda; kamu (ummatku) lebih mengerti tentang dunia/kebudayaanmu.

“Kebudayaan ialah produk waktu, tentu memiliki tenggat waktu.”

Kautsar, 28 September 2013

Source: ATJEHPOSTcom

 

* Kautsar Muhammad Yus adalah aktifis sosial dan politisi muda Aceh yang telah berjuang untuk Aceh yang lebih baik dan lebih maju sejak mahasiswa, dan dikenal sebagai salah satu Eksponen ’98.  Dia adalah salah satu Ketua Gabungan Musisi Aceh.

Facebook Comments

Leave a Reply

%d bloggers like this: