Asean Jazz Festival 2013 Hari Kedua: Jeli & Berani Memilih Musisi

Source: xposeindonesia.com
Source: xposeindonesia.com

Jeli & Berani Memilih Musisi

Menikmati jazz di bawah sinar rembulan bulat, bertabur bintang, dengan sesekali terdengar pluit dari kapal fery yang
melintas, memang hanya bisa dinikmati di Asean Jazz Festival (AJF). Ini salah satu daya tarik eksotis AJF ke 6 yang
digelar di kawasan Harbour Bay, Batam, kepulauan Riau pada 20-21 September 2013 itu.

Direktur Festival AJF, Dwiki Dharmawan menyebut, selain pesona tempat kegiatan yang bertabur cahaya lampu dari
kapal fery maupun dari ujung lautan di Singapura, AJF juga dirancang berbeda dari festival jazz yang diselenggarakan di
tempat lain.

“Kami menampilkan musisi lokal yang tidak pernah diberi tempat di pentas lain. Padahal mereka punya potensi sangat
bagus,” kata Dwiki Dharmawan. “Salah satunya Moritza Taher Trio dari Aceh. Coba lihat deh, sebentar lagi mereka main di pentas ini,” ujar Dwiki saat mengundang XposeIndonesia makan malam di kafe Harbour Bay, di mana di sini terdapat satu panggung AJF, dari tiga panggung yang disiapakan.

Pujian Dwiki atas band Aceh ini memang bukan sekadar iklan basa basi. Band yang terdiri dari Moritza Taher (vokal,
keyboard), Maiwansyah Putra (bass) dan Teuku Mahfud (drum) ini, bermain jazz dengan sangat rapi juga cantik.
Mereka membawakan empat lagu jazz, tiga di antaranya ciptaan sendiri, sementara satu lagu berjudul “Pho” (berarti
Pemilik), merupakan lagu tradisi Aceh yang diarensemen ulang ke dalam jazz.

Menurut Moritza “Pho” sesungguhnya adalah lagu tradisi yang lahir sebelum Islam masuk ke Aceh. Dulu, biasa
diperdengarkan sebagai lagu pengiring mayat. Setelah Islam masuk, penggunaan lagu ini berpindah menjadi lagu untuk
upacara pernikahan. Liriknya berkisah tentang seorang ibu yang kehilangan anaknya karena terbunuh.

“Pho” versi Moritza Taher Trio terdengar menjadi sangat eksotik. Bukan hanya karena liriknya yang dilafalkan dengan
meratap dalam cengkok bahasa Aceh oleh sang vokalis, namun juga karena ritmenya lebih ritmis ketimbang aslinya.
Peran kolaburasi bunyi bass, keyboard dan drum membuat melody lagu ini menjadi sangat jazzy tanpa kehilangan aura
tradisi Aceh.

Sebelum Morizo Taher Trio tampil, di panggung lain juga terdengar musik jazz yang berbeda dan tidak mainstream.
Yakni jazz berbalut musik Melayu. Kelompok Malay Kadensa dari Tanjung Pinang Penyengat. Kelompok yang baru
empat bulan dibentuk khusus untuk AJF ini, memainkan jazz dengan sentuhan musik Melayu yang kuat. Mereka
mengaransir lagu melayu lama juga dari karya icon Musik Melayu, Said Efendi.

Menurut Rinoi Renaldi (bass), formasi band ini terdiri terdiri dari tujuh orang. Namun pada malam itu hanya tampil
lima yakni : Muhammad Maliki (gitar, amadolin, gambus), Andi Adi Putra (drum), Rudi Irwansyah (violin), Raja
Khairul (saxsopone, fluete, clatrinet). “Dua personil kami berhalangan, karena punya kegiatan lain!”

Rino menyebut, band ini sengaja memainkan jazz dengan mengangkat tradisi Melayu, yang kuat dalam akar kehidupan
tradisi mereka. “Agar anak muda kita bisa mengenal dan lebih dekat dengan musik tradisi milik mereka sendiri. Kami
mengaransi ulang lagu lama Melayu dengan progresf akord yang lebih easy listening!”

Sebuah semangat yang wajib didukung. Hanya sayangnya, tempat berekspresi bagi kelompok band macam Malay
Kadensa dan Moritza Taher Trio ini , masih sangat terbatas. Di antara 46 program Jazz Festival yang dibuat oleh berbagai
event organizer sepanjang tahun 2013, baru AJF yang jeli dan berani memberikan panggung untuk mereka berekespresi.
(Nini Sunny. Foto : Asep Hidayat)

Source: xposeindonesia.com

Facebook Comments

Leave a Reply

%d bloggers like this: