Catatan Albert Jester: Luka Mereka, Luka Kita Juga

Albert - Indiegem

oleh Faisal Albert Jester*

Siang itu (9/7) cuaca sangat terang dan terik. Starblack Cafe kembali menjadi tempat rendezvous bagi relawan-relawan musisi Bireuen yang tergabung di dalam Gabungan Musisi Aceh Bireuen, dan beberapa simpatisan lainnya. Setelah menunggu dari pagi, akhirnya hadir juga beberapa teman yang telah dahulu membuat komitmen untuk ikut pergi mengantarkan bantuan hasil Ngamen Amal ke Kabupaten Bener Meriah. Ngamen Amal adalah bagian dari aksi Musisi Bireuen Peduli Gempa Gayo, yang pada hari Minggu, 7 Juli 2013 lalu turun ke jalan mengumpulkan dana dan barang dari masyarakat kota Bireuen.

Ada Ricky Noxious Syndrome, Dedi Tanduk Setan,  Mirza GB, Dolly,  M. Ridha dan fotografer kami tercinta Ian Syahrizal duduk di satu meja berbincang-bincang sambil menunggu sebuah informasi sebelum berangkat ke lokasi tujuan. Seperti yang diberitakan  oleh media massa, pagi itu (9/7) Presiden SBY berkunjung ke Bener Meriah. Pasti jalanan akan macet dan akan muncul banyak kerepotan kalau kami memaksa juga untuk pergi ke sana pagi itu. Akhirnya informasi yang ditunggu-tunggu itu datang: Presiden SBY dan rombongan sudah kembali ke Lhokseumawe dengan menggunakan helikopter. Saatnya untuk bergerak!

Jam 12, pick up yang dari tadi sudah penuh dengan muatan kardus yang berisi  pampers, sabun bayi, minyak telon, susu bayi,  biskuit bayi, garam, ikan asin, piring, kuali goreng, sendok goreng, baju ibu-ibu, dan baju bekas anak-anak akhirnya berangkat juga. Fokus kami lebih kepada bayi dan balita, karena menurut informasi yang kami terima, bantuan yang datang lebih bersifat umum, sehingga diperlukan lebih banyak bantuan untuk anak-anak dan bayi. Berhubung kenderaannya adalah pick up, sebagian besar penumpang harus bersedia duduk di belakang.

Sepanjang jalan menuju tanah Gayo, kenderaan hilir mudik mengantarkan bantuan. Kami melewati banyak desa dan beberapa posko bantuan. Sedih sekali melihat nasib para korban gempa. Semoga Allah mengetuk hati lebih banyak orang dan menggerakkan mereka untuk mau membantu saudara-saudara kami di Tanah Gayo. Tujuan perjalanan adalah menuju posko Air Putih dan Pelita UGP. Setelah 4 jam perjalanan, akhirnya kami sampai di tujuan. Terik, panas, dan debu tidak bisa menjadi halangan bagi kami yang duduk di belakang mobil pick up.

Bantuan GMA Bireuen

Sahabat kami Danurfan alias Indiegem sudah menunggu di Posko. Kami turun dan langsung dijamu dengan… KOPI! Indiegem memang top dan pengertian! Perasaan lega didapatkan setelah memasukkan kembali kafein ke dalam tubuh setelah 4 jam. Di depan posko kami duduk berdiskusi mengenai situasi terkini di daerah gempa. Permasalahan terbesar menurut penuturan teman-teman di Posko adalah lambatnya penyaluran bantuan dari posko utama dikarenakan harus melalui prosedur yang rumit. Hanya posko-posko kecil yang bisa membantu langsung secara cepat tanpa prosedur, tentu saja penyalurannya tetap terukur dan sesuai dengan data survey.

Barang-barang yang kami bawa, diturunkan untuk diserahterimakan kepada teman-teman di Posko. Mereka nantinya yang akan menyalurkan langsung kepada yang pantas menerimanya. Kemudian kami mulai keliling-keliling melihat situasi di kampung  Daling, kecamatan Bebesan, Bener Meriah. Menetes air mata melihat kondisi disana. Kami melihat ada keluarga yang bekerja keras mendirikan tiang-tiang untuk shelter, dari kayu bekas rumah mereka yang kini sudah rata dengan tanah. Kami mengerti, kalau malam suhu bisa mencapai 12 derajat. Tidak mungkin mereka bisa bertahan kalau terus menerus hidup di tenda dengan iklim pegunungan dan cuaca Tanah Gayo yang kadang-kadang teramat ekstrim. Aku membatin dan berdoa, semoga Pemerintah segera membuat rumah-rumah yang layak untuk para korban.

Pukul 5:30 kami kembali ke posko dan berpamitan untuk melanjutkan kembali perjalanan menuju ke kota Juang Bireuen. Kami sadar, bantuan yang kami antarkan sangat ala kadar dibandingkan kebutuhan sesungguhnya para korban gempa. Namun hanya ini yang bisa kami perbuat sementara.

Kami kembali melewati jalan yang kami lalui tadi siang. Kembali kami melihat reruntuhan rumah-rumah, tempat usaha, mushalla dan mesjid disepanjang perjalanan. Malam itu adalah malam pertama taraweh versi Pemerintah Indonesia. Pasti berat bagi para masyarakat yang hidup di tempat penampungan untuk melaksanakan ibadah di bulan Ramadhan ini.

Malam yang datang di bumi Gayo ternyata tidak bersahabat dengan kami yang lupa untuk membekali diri dengan pakaian yang lebih hangat. Semua yang duduk di bak belakang pick up menggigil, pucat dan kedinginan. “Kita udah kayak Zombie” kata Ian Safrizal mencoba melucu. Ya Tuhan, berilah perlindungan kepada korban gempa gayo. Berilah kekuatan dan kesehatan kepada mereka. Semoga mereka tetap tabah dan tawakkal. Amin Ya Allah.

* Ketua Gabungan Musisi Aceh Cabang Bireuen.

Photo: Rekan-rekan GMA Bireuen dan Indiegem


“Source: Rekan2 dan Indiegem”

From GMA Bireuen mengantarkan bantuan ke Bener Meriah, posted by Dave Wreckl on 7/10/2013 (18 items)

Generated by Facebook Photo Fetcher 2


Facebook Comments

Leave a Reply

%d bloggers like this: